{"id":361,"date":"2019-01-29T15:55:01","date_gmt":"2019-01-29T15:55:01","guid":{"rendered":"https:\/\/pi.fud.iain-surakarta.ac.id\/?page_id=361"},"modified":"2021-08-28T10:02:29","modified_gmt":"2021-08-28T10:02:29","slug":"embed-2","status":"publish","type":"page","link":"https:\/\/pi.fud.uinsaid.ac.id\/arsip\/embed-2\/","title":{"rendered":"Esai Mahasiswa"},"content":{"rendered":"\n<figure class=\"wp-block-embed-wordpress wp-block-embed is-type-wp-embed is-provider-psikologi-islam-iain-surakarta\"><div class=\"wp-block-embed__wrapper\">\n<blockquote class=\"wp-embedded-content\" data-secret=\"aEUgeFalSw\"><a href=\"https:\/\/pi.fud.iain-surakarta.ac.id\/2019\/05\/29\/makna-kemenangan-di-akhir-bulan-ramadan\/\">Makna Kemenangan di Akhir Bulan Ramadan<\/a><\/blockquote><iframe class=\"wp-embedded-content\" sandbox=\"allow-scripts\" security=\"restricted\" style=\"position: absolute; clip: rect(1px, 1px, 1px, 1px);\" title=\"&#8220;Makna Kemenangan di Akhir Bulan Ramadan&#8221; &#8212; PSIKOLOGI ISLAM  IAIN SURAKARTA\" src=\"https:\/\/pi.fud.iain-surakarta.ac.id\/2019\/05\/29\/makna-kemenangan-di-akhir-bulan-ramadan\/embed\/#?secret=aEUgeFalSw\" data-secret=\"aEUgeFalSw\" width=\"600\" height=\"338\" frameborder=\"0\" marginwidth=\"0\" marginheight=\"0\" scrolling=\"no\"><\/iframe>\n<\/div><\/figure>\n\n\n\n<div class=\"wp-block-file\"><a href=\"https:\/\/pi.fud.iain-surakarta.ac.id\/wp-content\/uploads\/2019\/06\/Lomba-Makalah-Miranda-Refamala-dan-Trisna-Amalia-Psikologi-Islam.pdf\" target=\"_blank\" rel=\"noreferrer noopener\">Juara III Lomba-Makalah FUD Expo 2018<\/a><a href=\"https:\/\/pi.fud.iain-surakarta.ac.id\/wp-content\/uploads\/2019\/06\/Lomba-Makalah-Miranda-Refamala-dan-Trisna-Amalia-Psikologi-Islam.pdf\" class=\"wp-block-file__button\" download>Download<\/a><\/div>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-embed-wordpress wp-block-embed is-type-wp-embed is-provider-psikologi-islam-iain-surakarta\"><div class=\"wp-block-embed__wrapper\">\n<blockquote class=\"wp-embedded-content\" data-secret=\"aS4Wl140oC\"><a href=\"https:\/\/pi.fud.iain-surakarta.ac.id\/2019\/03\/21\/kasus-bullying-di-sekolah-dasar\/\">Kasus Bullying Di Sekolah Dasar<\/a><\/blockquote><iframe class=\"wp-embedded-content\" sandbox=\"allow-scripts\" security=\"restricted\" style=\"position: absolute; clip: rect(1px, 1px, 1px, 1px);\" title=\"&#8220;Kasus Bullying Di Sekolah Dasar&#8221; &#8212; PSIKOLOGI ISLAM  IAIN SURAKARTA\" src=\"https:\/\/pi.fud.iain-surakarta.ac.id\/2019\/03\/21\/kasus-bullying-di-sekolah-dasar\/embed\/#?secret=aS4Wl140oC\" data-secret=\"aS4Wl140oC\" width=\"600\" height=\"338\" frameborder=\"0\" marginwidth=\"0\" marginheight=\"0\" scrolling=\"no\"><\/iframe>\n<\/div><\/figure>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-embed-wordpress wp-block-embed is-type-wp-embed is-provider-psikologi-islam-iain-surakarta\"><div class=\"wp-block-embed__wrapper\">\n<blockquote class=\"wp-embedded-content\" data-secret=\"gLRoKiwPxm\"><a href=\"https:\/\/pi.fud.iain-surakarta.ac.id\/2019\/03\/21\/republik-netizen-di-era-milenial-4-0\/\">Republik Netizen di Era Milenial 4.0<\/a><\/blockquote><iframe class=\"wp-embedded-content\" sandbox=\"allow-scripts\" security=\"restricted\" style=\"position: absolute; clip: rect(1px, 1px, 1px, 1px);\" title=\"&#8220;Republik Netizen di Era Milenial 4.0&#8221; &#8212; PSIKOLOGI ISLAM  IAIN SURAKARTA\" src=\"https:\/\/pi.fud.iain-surakarta.ac.id\/2019\/03\/21\/republik-netizen-di-era-milenial-4-0\/embed\/#?secret=gLRoKiwPxm\" data-secret=\"gLRoKiwPxm\" width=\"600\" height=\"338\" frameborder=\"0\" marginwidth=\"0\" marginheight=\"0\" scrolling=\"no\"><\/iframe>\n<\/div><\/figure>\n\n\n\n<p style=\"text-align:center\"><strong>PENGALAMAN BERAGAMA DI NEGERI PANCASILA<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Indonesia adalah negara kepulauan yang mempunyai banyak bahasa,budaya, suku , kepercayaan dan semua itu di satukan oleh Pancasila sebagai pendoman bagi warga negara Indonesia dengan semboyannya adalah \u201cBhineka Tunggal Ika\u201d yang mempunyai arti meskipun berbeda \u2013 beda tetapi tetap satu jua. Dan dengan memberikan peraturan \u2013 peraturan atau hukum serta undang \u2013 undang untuk mengatur warga negara agar tetap hidup rukun berdampingan. Sebagai ideologi negara, Pancasila menjamin dan memberikan kebebasan kepada rakyat Indonesia, sehingga aturan tersebut akan mengikat rakyat Indonesia untuk saling menghormati dan menghargai satu sama lain. Nila-nilai luhur dari agama (termasuk dan terutama Islam) dan budaya yang terintegrasi dalam ideologi negara telah menjadikan Pancasila sebagai ideologi yang relatif kokoh. Kokohnya ideologi Pancasila telah terbukti dengan daya tahannya yang tinggi terhadap segala gangguan dan ancaman dari waktu ke waktu, sehingga sampai saat ini tetap eksis sebagai falsafah dan landasan serta sumber dari segala sumber hukum bagi negara-bangsa Indonesia. <\/p>\n\n\n\n<p>Begitu juga dengan\npengalaman yang pernah saya alami, saya dan keluarga\nsaya beraliran Islam yang mungkin minoritas, bahkan di desa saya hanya keluarga saya yang menganut aliran\nitu. Para masyarakat disekitar saya masih banyak\nyang mempercayai adat jawa, atau biasa\ndisebut kejawen. Tapi walaupun keluarga\nsaya menganut aliran yang minoritas, para masyarakat di sekitar saya tetap menghargai perbedaan tersebut. Disitu\nsaya melihat bahwa masyarakat disekitar\nsaya itu bersifat\nterbuka terhadap perubahan. Pada saat itu keluarga saya\nmempunyai sebuah inisiatif untuk membangun\nsebuah masjid ditanah kosong milik orang tua saya didekat rumah, tapi ternyata setelah\nmaterial dipersiapkan dan\ntinggal memulai pembangunan, ada tetangga saya yang ternyata\nberaliran tertentu, juga ingin membangun masjid, akhirnya pada saat itu\nseluruh warga dikumpulkan untuk membahas\nrencana pembangunan yang berbenturan tersebut.\nSebenarnya dari pihak bapak saya sudah ikhlas\nkalau dibangun 2 masjid, tapi dari tetangga\nsaya kekeh dan tidak mau diganggu untuk pembangunan masidnya 1 saja. Akhinya bapak saya mengalah dan membatalkan\nrencana itu. Tapi setelah dibangun\nmasjid itu juga tidak berpengaruh bagi keluarga saya, keluarga saya masih\nhidup damai dan tidak dikucilkan\nwalaupun menganut aliran Islam yang\nminoritas. Disitu saya belajar bahwa perbedaan\nitu tidak menjadi batas, tapi yang terpenting bagi saya yaitu tetap\nberbuat baik pada masyarakat sekitar,\napapun alirannya. Kebaikan\nakan selalu dibalas kebaikan, itu yang dirasakan\noleh keluarga saya.<\/p>\n\n\n\n<p>Untuk itu, sikap toleransi perlu ditangguhkan dalam diri setiap warga Negara Indonesia, karena sikap toleransi adalah suatu sikap atau perilaku manusia yang tidak menyimpang dari aturan, di mana seseorang menghargai atau menghormati setiap tindakan yang orang lain lakukan. Sikap toleransi sangat perlu dikembangkan karena manusia adalah makhluk sosial dan akan Selain itu dengan adanya toleransi antara pemeluk agama juga dapat mewujudkan masyarakat yang religius. Keindahan masyarakat yang religius, tercermin dari adanya kerjasama antar sesama golongan dalam masyarakat itu sendiri. Masyarakat Islam di Jawa sendiri sangat terkenal dengan sikap toleransi yang dijunjung tinggi seperti sikap Tepa Slira yang mengajarkan untuk selalu mengukur segala tindakan dengan mengandaikan diri sendiri sebagai patokannya.<\/p>\n\n\n\n<p>Kerukunan beragama menunjukkan kondisi positif dari interaksi antar pemeluk agama. Interaksi antar umat beragama mencerminkan bagaimana agama difungsionalkan dalam konteks sosial. Dalam proses sosial ini, maka kondisi damai dan konflik bagaikan dua sisi mata uang dalam kehidupan manusia. Manusia berhubungan dengan pihak lain dapat berelasi secara asosiatif, tetapi dapat juga dissosiatif. Interaksi yang assosiatif adalah hubungan sosial dalam masyarakat terwujud dari adanya kehendak rasional antar elemen masyarakat, dalam pengertian segala hal yang disepakati bersama dan tidak bertentangan dengan norma dan nilai sosial yang berlaku. Proses ini mengarah pada semakin kuatnya ikatan antara pihak-pihak yang berhubungan. Di sisi lain, interaksi dissosiatif merupakan bentuk hubungan sosial yang mengarah pada perpecahan atau merenggangnya hubungan sosial antarpihak yang saling berhubungan. Proses ini dapat berbentuk persaingan, kontravensi, maupun pertentangan. Keadaan yang seperti ini bisa menimbulkan sikap intoleran yang mengancam kerukunan umat, walaupun itu hanya ibarat angin lalu. Karena kita saat ini hidup di era yang serba modern, sudah semestinya kita bisa menyesuaikan dengan perkembangan jaman. Saat ini, intoleransi di Indonesia masih terus menguat. Berbagai organisasi radikal terus bermunculan. Meski pemerintah telah memutuskan, akan membubarkan organisasi Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), tidak bisa menghentikan praktek intoleransi dan radikalisme. Masih banyak organisasi radikal lain, yang bisa kita temukan. Karena itulah, intoleransi dan radikalisme masih menjadi ancaman serius bagi negeri ini. <\/p>\n\n\n\n<p>Toleransi bukan kewajiban satu kelompok akan tetapi semua orang. Toleransi bukan kewajiban satu agama tetapi semua umat beragama. Ini menjadi suatu tantangan bagi kaum milenial Indonesia saat ini. Sebagai generasi penerus bangsa, anak muda harus mampu menjadi agen penebar toleransi. Anak muda tidak harus hanya menjadi generasi yang kreatif dan inovatif, tapi juga generasi yang ramah. Ramah kepada siapa saja tanpa harus mempermasalahkan perbedaan latarbelakang dan keyakinan. Karena memang itulah, yang menjadi karakter masyarakat Indonesia. Ramah, suka menolong, saling menghormati dan tidak pernah menebarkan kebencian kepada orang lain. Sebagai generasi penerus, pemuda harus menjadi generasi toleran demi terciptanya kerukunan antar umat. Pemuda seharusnya mampu menjadi tampuk perubahan sosial dan pemuda harusnya jadi penetrasi konflik diantara keberagaman konflik yang terjadi antar umat beragama di negara kita ini. Era milenial yang trend saat ini dengan kecanggihan teknologi harusnya mampu mengubah tantangan dan peran mereka, jika dulu pemuda berperan sebagai pelopor kemerdekaan. Pemuda era milenial harusnya bervolusi menjadi agen perubahan dalam menghadapi tantangan toleransi. <\/p>\n\n\n\n<p>Untuk itu saya mengajak kaum muda\nIndonesia sebagai orang yang memiliki\nperan penting dalam membawa negeri ini dimasa depan, marilah kita membangun interaksi\nyang baik dan intensif. Mari kita tumbuh kembangkan\nlagi sikap toleransi di dalam diri dan lingkungan kita agar kebhinekaan terjalin erat kembali\ndalam diri dan negara\nyang kita cintai\nini.<\/p>\n\n\n\n<p style=\"text-align:center\"> <strong>PREFERENSI MAKANAN TERHADAP KEMUNGKINAN PENYAKIT YANG TERJADI DIMASA MENDATANG<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Perubahan era seperti saat ini juga\nberpengaruh kepada gaya hidup masyarakat\nyang gemar mengkonsumsi makanan cepat saji yang memiliki kadar kalori tinggi,mengandung penyedap rasa,pewarna, dan pengawet makanan.\nHal tersebut yang menyebabkan kenaikan\ndaftar orang obesitas\ndi negara berkembang. Makanan\nyang tidak sehat, tinggi kalori, dan tinggi lemak\nadalah faktor penting dalam kontribusinya.<\/p>\n\n\n\n<p>Pemilihan makanan selalu berubah\nsetiap tahunnya. Hal tersebut menunjukkan bahwa konsumen memberikan\ntanggapan yang positif dan merasa senang karena pilihan\nmakanan semakin bervariasi.Mereka bisa memilih makanan\nyang mereka sukai. Hal ini berpengaruh kepada jenis makanan yang dikonsumsi saat diet berdasarkan\napa yang disukai saja.<\/p>\n\n\n\n<p>Konsumen yang hanya memilih makanan diet berdasarkan preferensi mereka saja tanpa memperhatikan kadar nutrisi yang dibutuhkan malah akan memunculkan penyakit bagi dirinya sendiri,seperti <em>aterosklerosis, obesitas, diabetes, hipertensi, dan osteoporosis. <\/em>Kemungkinan terjadinya penyakit tersebut dapat dicegah dengan menerapkan pola diet yang baik.<\/p>\n\n\n\n<p>Diet\nbaik yang dimaksud\nadalah diet yang memperhatikan kadar\nnutrisi yang diperlukan oleh tubuh. Kebutuhan\nnutrisi untuk setiap\norang pun berbeda-beda berdasarkan kondisi tubuh masing-masing. Biasanya\nkebutuhan gizi tergantung pada faktor usia, jenis kelamin, tingkat\naktivitas fisik, berat badan, dan tinggi badan.<\/p>\n\n\n\n<p>Jadi dapat disimpulkan bahwa, penerapan\ngaya hidup sehat dengan memilih makanan\ndengan nutrisi seimbang\ndapat mencegah terjadinya penyakit di masa datang. Sehat itu mahal harganya,maka lebih\nbaik kita merawat daripada\nmengobati . Tubuh yang sehat dapat menghasilkan sumber\ndaya manusia yang lebih produktif. Oleh karena itu, pola hidup sehat\nperlu digerakkan kembali mengingat\nsemakin banyaknya makanan instan yang beredar dipasaran\nsemakin bervariasi.<\/p>\n\n\n\n<p style=\"text-align:center\"> <strong>PSIKOLOGIS BANGSAKU TERPASUNG WESTERNISASI <\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Dalam era mileneal sekarang ini, sudah tidak asing berbicara tentang westernisasi. Westernisasi sendiri menurut Samuel P. Huntington adalah proses di dalam masyarakat yang mengikuti segala bentuk gaya hidup bangsa barat. Mulai dari sikap individualis, menganggap bahwa budaya asing lebih baik daripada budaya asli Indonesia, perubahan konsumsi jenis makanan dan minuman, pergaulan bebas, gaya berpakaian dan warna rambut.<\/p>\n\n\n\n<p>Semua\nyang berbau westernisasi dikalangan masyarakat sudah merajalela.\nMulai dari muda sampai tua pasti mengikuti gaya hidup seperti itu, sadar atau tidak. Banyak\nnya pro kontra di masyarakat akan dampak dari westernisasi.\nDampak dari hal ini memang cukup merubah perilaku dalam masyarakat. Masyarakat sekarang\nlebih individualis, lunturnya\nsikap gotong royong, dan banyak kasus seks bebas. Itu\ntadi bila ditinjau dari sisi negatif nya. Ditinjau\ndari sisi positifnya juga banyak mulai dari kemajuan\nteknologi semakin\nmempermudah hidup yang lebih efektif dan produktif selain itu macam-macam lapangan pekerjaan\nsemakin banyak.<\/p>\n\n\n\n<p>Banyaknya pro kontra terhadap dampak dari westernisasi juga diikuti dengan pengaruh psikologi dari dampak tersebut. Pengaruh psikologi di sini lebih ditekankan pada kesehatan mental para generasi sekarang. Sebelum menjelaskan tentang hal tersebut, kita akan sedikit menjelaskan tentang bagaiamana generasi mileneal bisa terpengaruh dengan gaya hidup seperti itu ditinjau dari sisi psikologi. Mereka terpengaruh karena belajar dari apa yang mereka lihat, dengar, dan rasakan. Belajar adalah perubahan sistematis dan relatif permanen pada perilaku yang terjadi melalui pengalaman (Laura A. King, 2016:228). Dalam proses belajar ini ada 3 cara menurut Laura yaitu pengkondisian klasik, pengkondisian operan, dan belajar observasional. Dalam kasus ini, akan dijelaskan dengan model belajar observasional. <\/p>\n\n\n\n<p>Menurut Bandura (dalam Laura A. King, 2016 : 253) ada empat proses utama yang terlibat dalam pembelajaran observasional yaitu atensi, retensi, reproduksi motorik, dan penguatan. Pertama atensi, yaitu kita melihat dan memperhatikan lingkungan dan juga apa yang kita tonton setiap waktu. Kemudian retensi, yaitu kita mengingat apa saja yang pernah kita lihat dan memasukkannya ke dalam memori seperti halnya ketika kita menyimpulkan sesuatu. Selanjutnya reproduksi motorik, yaitu kita meniru perilaku model. Model disini adalah apapun hal yang kita ingat dan ingin kita tiru, contohnya kita melihat gaya busana Selena Gomez dan kita mengingat bagaimana gaya busananya kemudian kita mengikuti gaya busananya. Karena kita tertarik dan ingin melihat apakah ada konsenkuensinya. Kemudian kita melihat ada konsenkuensi dari gaya berpakaian Selena yaitu dia menjadi selebgram karena gaya berpakaiannya sehingga kita akan meniru nya berulang kali. Itu tadi adalah elemen terkahir dari proses belajar observasional yaitu penguatan.<\/p>\n\n\n\n<p>Belajar observasional dapat menjadi\nperan penting dalam menginspirasi\nseseorang. Apakah seseorang yang kita tiru bisa menjadi inspirator dalam kebaikan\nsehingga kita bisa mengubah persepsi\nkita. Contohnya dalam kasus\nMerry Riana yaitu dia menjadi salah satu model\nperan dalam pebisnis\nmuda dan mendapatkan uang satu juta dollar pertamanya pada usia 26 tahun pada tahun 2006<sup>3<\/sup>. Sehingga memicu semangat\npara generasi mileneal\nuntuk menjadi pebisnis\nyang sukses. Contoh nya generasi millennial sekarang\nyang sukses di usia muda yaitu Syafii\nEffendi, Adamas Belva Syah Devara, Nadiem Anwar Makarim, dan masih banyak lagi.<\/p>\n\n\n\n<p>Lalu,\napa kaitan kesehatan mental dengan westernisasi ini? Mau tidak mau\nmental kita seperti terpasung dengan westernisasi. Kemanapun kita pergi, kita makan, kita berbelanja, kita tonton selalu terikat dengan westernisasi.\nContonya ketika kita pergi, banyak sekali kita melihat gaya berpakaian orang-orang seperti bangsa barat. Lalu, kita juga makan- makanan\njunk food kemudian\nminum-minuman berakohol. Ketika berbelanja\npakaian atau apapun pasti kita lebih percaya diri ketika membeli barang yang bermerk luar negeri. Itulah\nsalah satu contoh mental anak bangsa yang terjajah. Padahal\nbanyak sekali anak muda yang berprestasi dan produktif\ntetapi banyak dari pemuda seperti itu masih dikalahkan dengan pemuda yang konsumtif. Apalagi mereka\nkonsumtif terhadap produk luar bukan\nproduk dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n<p>Gangguan mental pada generasi sekarang yang banyak terjadi adalah stres dan depresi. Gangguan mental tersebut terjadi karena kurang puasnya mereka akan hidup yang dijalani ditambah dengan tekanan dari lingkungan sekitar. Semisal, di sekolah nya mayoritas anak-anak orang kaya kemudian ada anak orang miskin yang selalu di <em>bully <\/em>karena berpakaian lusuh, tidak mempunyai gadget yang bagus dan yang lainnya. Apabila mental anak tersebut tidak baik maka bisa memunculkan stres karena tidak bisa mendapatkan apa yang anak lainnya dapatkan karena kondisi ekonomi ditambah dengan perilaku buruk dari teman-temannya. Stres yang berlarut- larut bisa mengakibatkan depresi kemudian dia bisa bunuh diri. Karena stres dan depresi tidak bisa dianggap hal sepele. Jadi, apabila ada orang yang depresi jangan dianggap gila dan dijauhi karena sebenarnya mereka memerlukan bantuan dan semangat dari orang-orang terdekatnya.Westernisasi mengakibatkan orang-orang lebih individualisme seperti ketika berkumpul bersama teman-teman kita lebih asik bermain gadget masing-masing. Lalu, apakah tujuan dari berkumpul tersebut apabila semuanya sibuk dengan kegiatan masing-masing. Memang sulit untuk jauh dari gadget tapi bukan berarti tidak mungkin. Padahal dengan berkumpul dan berbicara dengan teman-teman bisa meningkatkan rasa emosional kita sehingga akan menguatkan rasa simpati dan empati terhadap teman<\/p>\n\n\n\n<p>Diharapakan generasi sekarang mempunyai\nmental yang kuat, perilaku yang baik, sehingga\nakan memunculkan generasi-generasi berkualitas. Apa gunanya pintar tetapi tidak bisa menjaga\nkestabilan emosi nya ketika di kritik\nuntuk menjadi lebih baik lagi. Karena dengan mental yang sehat dan kuat akan menjadikan manusia yang tahan banting,\ntidak menyerah, bisa mengikuti dan\nberadaptasi dengan dunia yang keras ini. Dimanapun dan kapanpun kita tidak bisa lepas dari yang namanya\nweternisasi. Jadi, diharapkan bisa menyaring pengaruh\nbaik westernisasi dan mengembangkan pengaruh\nbaik itu sehingga\nberguna bagi umat manusia.<\/p>\n\n\n\n<p>DAFTAR PUSTAKA<\/p>\n\n\n\n<p><a href=\"https:\/\/lifestyle.kompas.com\/read\/2011\/07\/19\/19203831\/Merry.Riana.Jadi.Miliarder.di.Usia.Muda?page=all\">.Jadi.Miliarder.di.Usia.Muda?page=all<\/a><\/p>\n\n\n\n<p>King, Laura A., 2016.Psikologi Umum: Sebuah Pandangan Apresiasif. Jakarta : Salemba Humanika.<\/p>\n\n\n\n<p style=\"text-align:center\"><strong>PEMBELAJARAN AL-QUR\u2019AN DI MA\u2019HAD UNTUK MENGANTISIPASI RADIKALISME DAN EKSTRIMISME AGAMA<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Negara Indonesia adalah negara\nkepulauan yang memiliki pulau sebanyak 17.504.\nPulau-pulau ini terdiri\natas 5 pulau besar dan ribuan pulau\nkecil. Selain memiliki wilayah yang luas, Indonesia juga memiliki jumlah penduduk terbesar nomer 4 di dunia setelah\nAmerika Serikat. Dari hal tersebut, Indonesia\nrentan dengan adanya\nradikalisme.<\/p>\n\n\n\n<p>Semboyan bangsa Indonesia sendiri\nyakni, Bhinneka Tunggal Ika\u201d yang mempunyai\narti meskipun berbeda\n\u2013 beda tetapi tetap satu jua. Perbedaan yang dimaksud adalah perbedaan\nSARA. Setidaknya, bangsa Indonesia\nmemiliki 1.340 sukudengan 6 agama yang telahdiakuiolehnegara, yakni Islam, Kristen, Katolik, Hindhu,\nBudha, dan Kong Hu Cu. Ras di Indonesia digolongkan menjadi 4 yaitu, golonganMelayu Mongoloid, Weddoid, Negroid, dan Papua Melanesoid. Dengan\nadanya banyak ras, maka bahasa yang digunakanpun berbeda \u2013 beda.\nPerbedaan inilah yang disebut sebagai keragaman.<\/p>\n\n\n\n<p>Dalam keragaman inilah diperlukan toleransi antar umat beragama. Toleransi sendiri adalah suatu sikap saling menghormati dan menghargai antar kelompok atau antar individu. Lawan dari toleransi yakni, ekstrimitas yang artinya perbuatan yang melewati batas dan cenderung tidak mau menerima perbedaan. Akhir \u2013 akhir ini di Indonesia sedang terjadi radikalisme-ekstrimisme yang dilakukan oleh beberapa kelompok terhadap suatu agama. Radikalisme sendiri adalah paham atau aliran yang menginginkan perubahan atau pembaharuan sosial dan politik dengan cara kekerasan atau drastis. Hal \u2013 hal seperti itu dapat menimbulkan konflik antar umat beragama.<\/p>\n\n\n\n<p>Adanya radikalisme-ekstrimisme\nsendiri dipicu dari golongan agama garis keras\nyang ingin menegakkan negara Islam dan memunculkan kembali\nmasa kepemimpinan khalifah. Menurut mereka, orang yang beragama\nselain Islam adalah orang\nkafir yang harus diperangi dan dibunuh. Padahal pada zaman Rasulullah, adanya\nperang antar umat Islam dan kafir adalah\nperintah dari Allah\nbukan karena keinginan\nRasulullah maupun kebencian\nRasulullah terhadap orang kafir. Nyatanya,\nRasulullah bidup dalam kemajemukan suku dan agama di Madinah,\nnamun dapat membangun kehidupan yang harmonis\nantar suku dan agama yang dituangkan dalam Piagam Madinah.\nDari sejarah itu, kita bisa mengetahui bahwa Rasulullah sudah mencontohkan sikap\ntoleransi antar umat beragama.<\/p>\n\n\n\n<p>Sikap toleransi adalah cerminan dari moral bangsa.\nPengertian moral menurut\nKamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah ajaran tentang baik buruk yang diterima umum mengenai perbuatan,\nsikap, kewajiban dan sebagianya; akhlak;\nbudi pekerti; susila.\nDengan adanya moral bangsa maka,\nmasyarakat Indonesia akan menjadi pribadi\ndengan tingkah laku yang baik.<\/p>\n\n\n\n<p>Agama islam merupakan rahmatan lil\n\u2018alamin yang berarti agama yang\nmemberikan rahmat untuk alam. Berarti sudah jelas bahwa agama Islam itu adalah rahmat untuk seluruh\nmakhluk yang ada di alam ini, baik yang\nbernyawa maupun yang tidak bernyawa, baik yang berakal maupun yang tidak. Karena itu, Allah selalu menciptakan makhluknya disertai dengan manfaatnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Dalam konsep \u201cTrilogi Ukhuwah\u201d yang\ndiperkenalkan oleh tokoh NU, K.H.\nAhmad Shiddiq (1926-1991) ada ukhuwah Islamiyah, ukhuwah wathaniyah, dan ukhuwah basyariyah. Dari trilogi ukhuwah, ada\nukhuwah wathaniyah yang berarti persaudaraan dalam ikatan kebangsaan. Jadi,<br><\/p>\n\n\n\n<p>ukhuwah wathaniyah adalah persaudaraan antar seluruh\nmasyarakat yeng terdiri dari berbagai\nmacam agama, suku, budaya, dan bahasa.<\/p>\n\n\n\n<p>Allah\nmenciptakan perbedaan pada setiap makhluk\nbukan tanpa alasan, karena dari perbedaan itulah\nkita akan saling mengenal dan belajar menghargai\nperbedaan yang ada. Dalam surat Al-Hujurat ayat 13 \u201cWahai manusia!\nSungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang\nlaki-laki dan seorang perempuan, kamudia Kami jadikan\nkamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu\nsaling mengenal. Sungguh, yang\npaling mulia diantara kamu di sisi Allah ialah orang\nyang paling bertakwa. Sungguh Allah Maha Mengetahui, Maha Teliti\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>Orang \u2013 orang yang radikal\nterhadap agama berarti tidak memahami ayat\nAl- Quran surat Al-Ma\u2019idah ayat 8 \u201cWahai orang-orang yang beriman! Jadilah kamu sebagai penegak keadilan\nkarena Allah (ketika) menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah\nkebencianmu terhadap suatu kaum mendorong\nkamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adilah. Karena (adil) itu lebih dekat kepada\ntakwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sungguh,\nAllah Maha mengetahui terhadap apa yang kamu kerjakan\u201d\ndi surat tersebut\nsudah dijelaskan meskipun\nkita berbeda agama\natau kaum kita tidak boleh\nmembencinya apalagi sampai\nmembunuh orang yang berbeda agama seperti peristiwa teror bom bunuh\ndiri di Surabaya pada tanggal\n13 Mei 2018 silam.<\/p>\n\n\n\n<p>Dengan adanya radikalisme-ekstrimisme, peran ma&#8217;had atau yang iasa disebut pondok pesantren sangat dibutuhkan di tengah-tengah zaman seperti ini. Ma&#8217;had merupakan salah satu cara pertahanan dari paham fenimisme agama karena disinilah para santri akan belajar tentang akhlakul karimah khususnya toleransi antar teman yang berbeda suku maupun bahasa. Tonggak yang paling penting untuk menghadapi problema seperti ini adalah moral yang harus di tanamkan dalam diri setiap manusia. Moral dan karakter yang baik mampu membentengi diri sendiri dari faham fenimisme.<\/p>\n\n\n\n<p>Di dalam pesantren, kita akan mempelajari makna dari al-qur&#8217;an karena dengan memaknai al-qur&#8217;an maka dapat dipastikan isi dari kitab tersebut dapat di terapkan. Apa gunanya menghafal al-qur&#8217;an kalau tidak tau isi dari kandungan Al-Qur&#8217;an tersebut? Sungguh ironis orang yang hanya menghafal dan mengetahui artinya saja tanpa memahami arti dari ayat al- quran. Inilah yang menyebabkan munculnya radikalisme agama karena mereka hanya hafal al-qur&#8217;an dan terjemahannya saja tanpa memahami makna yang terkandung atau mereka hanya memahami Al-Quran sepotong \u2013 sepotong, sehingga pemahaman tentang Islam yang terbentuk tidak sempurna. Al-qur&#8217;an itu dipelajari oleh santri dan para santrilah yang akan menyebarkan maknanya kepada masyarakat.<\/p>\n\n\n\n<p>Sebelumnya, sudah disebutkan bahwa para\nsantri yang belajar di pondok\npesantren akan belajar tentang aklakul karimah atau yang biasa kita sebut\nsebagai akhlak yang baik.\nContohnya sewaktu belajar\ndi pondok pesantren modern, selain belajar pelajaran\nformal seperti matematika, ilmu pengetahuan\nalam, dan yang lainnya, disekolah juga akan belajar tentang agama dari kitab kuning dan Al-Quran.\nSetelah di sekolah dibekali dengan pelajaran\nfomal dan pelajaran non formal, para pelajar yang pulang ke asrama akan melanjutkan pelajaran non formal\nnya khususnya membaca\nAl- Qur\u2019an. Membaca Al-Quran\ntentu bukan sekedar mengeja huruf per huruf sesui\nkaidah tajwid yang benar, namun akan diupayakan memahaminya dengan seksama dan hati-hati, mendasar\npada tafsir para ulama. Setelah membaca dan memahaminya dengan\nbaik dan benar,\nmaka diharapkan dapat\nmengaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari, baik secara vertikal, yaitu dalam konteks ibadah kepada Allah, maupun secara horizontal, dalam berhubungan\nterhadap sesama makhluk.<\/p>\n\n\n\n<p>Maka tidak heran para santri yang belajar dima&#8217;had tidak hanya faham pelajaran formal saja tetapi juga faham dari segi agama dan tingkah laku yang baik. Karena diharapkan para santri yang sudah lulus dari pondok pesantren bisa mengamalkan ilmunya baik pada diri sendiri maupun masyarakat.<\/p>\n\n\n\n<p>Sesungguhnya para santri yang memahami\nAl-Quran secara utuh dengan bantuan\npara kyai dan ustadz ustadzah dari pesantren akan lebih menoleransi perbedaan agama yang ada di Indonesia. \u201cUntukmu\nagamamu dan untukku agamaku.\u201d\ndijelaskan pada surat Al-Kafirun ayat 6 bahwa kita tidak boleh mencampuri urusan agama lain dengan kata lain kita\nharus bisa menoleransi perbedaan\nagama yang ada karena kita berada di Indonesia yang agamanya beragam\nini. Dari situlah,\nkeberadaan ma&#8217;had sebagai\nkunci pembuka pengajaran\nAl-Quran sangat dibutuhkan untuk membentuk moral bangsa dan mengantisipasi radikalisme-ektrimisme agama.<\/p>\n\n\n\n<p>DAFTAR PUSTAKA<\/p>\n\n\n\n<p><a href=\"https:\/\/blog.ruangguru.com\/mengenal-ras-dan-suku-bangsa-di-indonesia\">https:\/\/blog.ruangguru.com\/mengenal-ras-dan-suku-bangsa-di-<\/a> <a href=\"https:\/\/blog.ruangguru.com\/mengenal-ras-dan-suku-bangsa-di-indonesia\">indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n<p><a href=\"http:\/\/www.nu.or.id\/post\/read\/75101\/trilogi-ukhuwah-fondasi-pembangunan-indonesia\">http:\/\/www.nu.or.id\/post\/read\/75101\/trilogi-ukhuwah-fondasi-<\/a> <a href=\"http:\/\/www.nu.or.id\/post\/read\/75101\/trilogi-ukhuwah-fondasi-pembangunan-indonesia\">pembangunan-indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">BELAJAR DARI [DI] RUMAH: \u201cSOLUSI\nATAU PELARIAN\u201d ?<\/h2>\n\n\n\n<p>Institusi pendidikan dinilai sebagai salah satu sektor yang cepat menanggapi\u00a0\u00a0\u00a0 gelombang\u00a0 penyebaran\u00a0\u00a0 Covid-19. Institusi pendidikan membuat reaksi cepat karena dinilai potensial meningkatkan penyebaran. Sekolah dan Perguruan Tinggi ditutup untuk sementara. Menteri pendidikan dan kebudayaan menetapkan kebijakan sistem belajar dari rumah. Belajar dari rumah membuat slogan merdeka belajar semakin terlihat.<\/p>\n\n\n\n<p>Apa yang dimaksud\nmerdeka belajar dalam konteks belajar\ndari rumah? berdasarkan\nfenomena dan kesan umum yang ada, proses belajar justru diluar kendali. Belajar dari rumah untuk konteks SD-SMA\nadalah seperti liburan, sedangkan\nuntuk konteks perguruan tinggi kebijakan belajar dari rumah ditopang\ndengan optimalisasi penggunaan sarana teknologi komunikasi. Teknologi yang dimanfaatkan\ndalam perkuliahan seperti <em>e- learning\n<\/em>dan aplikasi <em>video-conference<\/em>.<\/p>\n\n\n\n<p>Selama\npandemi, pendidikan terasa\nmengalami adanya <em>leap <\/em>terhitung sejak awal bulan Februari 2020. Setelah adanya intruksi dari\npemerintah untuk belajar\ndan bekerja dari rumah yang membuat situasi\nmenjadi berbeda dengan sebelumnya. Dengan terjadinya\nfenomena ini teknologi menjadi penguasa\nyang membius mata masyarakat. Serba-serbi kehidupan dihiasi oleh dunia <em>online<\/em>. Akan tetapi, fenomena\ndi lapangan mengafirmasi terdapat beberapa kendala yang terjadi.<\/p>\n\n\n\n<p>Hal ini disebabkan oleh \u2018dosa\u2019 masa lalu proses pendidikan Indonesia, masih menjadi momok mematikan bagi proses pembelajaran daring. Kita perlu menyadari bahwa tidak semua mahasiswa berasal dari keluarga kelas menengah ke atas (Ningsih, 2020). Tidak semua pengajar dan mahasiswa menikmati proses \u2018milenial\u2019 ini. Tidak semua mereka memiliki gawai dan laptop, ada yang punya tapi susah mendapatkan internet. Bahkan didaerah tertentu susah mendapatkan jaringan internet.<\/p>\n\n\n\n<p>Lalu, seberapa efektif model pembelajaran online ini berpengaruh terhadap proses belajar para peserta didik atau mahasiswa? Dari fenomena yang ada, intensitas ketertarikan mengikuti kuliah online sangat kecil, perihal kehadiran (<em>present) <\/em>dirasa hanya sebuah formalitas, padahal kehadiran merupakan salah satu tolok ukur dalam membantu proses internalisasi pendidikan dalam kegiatan pembelajaran.<\/p>\n\n\n\n<p>Penulis melihat, sistem perkuliahan\ndaring di tengah pandemi ini adalah\nsolusi dan juga pelarian. Mengapa demikian? Dapat dikatakan solusi jika pihak perguruan tinggi telah\nmemberikan input dan praktik skill dalam penetrasi\nberbagai fasilitas, seperti \u2018e-learning\u2019. Pemantapan dalam soal fasilitas\ndan skill para pengajar menjadi\nsalah satu hal penting dalam perkuliahan daring.<\/p>\n\n\n\n<p>Sementara dikatakan sebagai pelarian\njika proses perkuliahan yang terjadi\ndalam kebingungan, entah karena sarana maupun skill yang dimiliki yang tidak sesuai.\nHal ini diafirmasi oleh banyaknya\nkeluhan dari mahasiswa, perkuliahan online hanya\nmenjadi judul belaka. Banyak dosen kebingugan,\ndalam waktu singkat harus mempelajari macam-macam sarana perkuliahan daring.<\/p>\n\n\n\n<p>Hal tersebut dikarenakan tuntutan segera melanjutkan proses pembelajaran, metode ralat dan (<em>trial and error<\/em>) terpaksa diterapkan, dan yang terjadi pengajar selalu memberikan tugas online dalam setiap kali pembelajarannya, karena itu mungkin dianggap mampu \u2018memaksa\u2019 mahasiswa untuk membaca atau mencari materi. Beberapa mahasiswa juga merasa seperti tak ada hal yang dipelajari selama semester tersebut, perkuliahan hanya seputar tugas dan tugas.<\/p>\n\n\n\n<p>Perkuliahan di tengah pandemi Covid-19 sering dikatakan sebagai kurikulum darurat. Kurikulum ini bisa disebut babak baru dalam system pendidikan di Indonesia. Ketersediaan <em>software <\/em>(piranti lunak), website, akses internet, listrik, gawai, dan computer menjadi ciri khas implementasi model ini ((ED), Unleased). Karakteristik proses pendidikan abad ke-21 menemui tantangan dan juga mendatangkan hal atau peluang baru. Gejala ini hadi sebagai konsekuesi berkembangnya IPTEK.<\/p>\n\n\n\n<p>Reformasi pendidikan yang berasal dari\npengembangan kurikulum virtual akan\nberdampak pada terciptanya system pendidikan dengan gaya baru. Lyn Haas menegaskan bahwa pendidikan itu harus bersifat\ndemokratis, yakni; pendidikan untuk semua (Rosyada, 2004). Hal ini senada dalam yang tercantum dalam UUD 1945 pasal 31 ayat\n(1) bahwa \u201csemua warga Negara berhak\nmendapatkan pendidikan\u201d, maka semua mahasiswa dan pengajar seharusnya memperoleh perlakuan yang sama.<\/p>\n\n\n\n<p>References<\/p>\n\n\n\n<p>(ED), U. S. (Unleased). The Internet of Thinks. <em>Industrie 4.0<\/em>,\n31-33.<\/p>\n\n\n\n<p>Ningsih, H. (2020, Juli). Anak-anak kelas bawah terkendala.\nKompas, Edisi Senin, 5.<\/p>\n\n\n\n<p>Rosyada, D. (2004).\n<em>Paradigma pendidikan demokratis. <\/em>Jakarta: Kencana.<\/p>\n\n\n\n<p><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>PENGALAMAN BERAGAMA DI NEGERI PANCASILA Indonesia adalah negara kepulauan yang mempunyai banyak bahasa,budaya, suku , kepercayaan dan semua itu di satukan oleh Pancasila sebagai pendoman bagi warga negara Indonesia dengan semboyannya adalah \u201cBhineka Tunggal Ika\u201d yang mempunyai arti meskipun berbeda \u2013 beda tetapi tetap satu jua. Dan dengan memberikan peraturan \u2013 peraturan atau hukum serta&hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"parent":0,"menu_order":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","template":"","meta":{"footnotes":""},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/pi.fud.uinsaid.ac.id\/arsip\/wp-json\/wp\/v2\/pages\/361"}],"collection":[{"href":"https:\/\/pi.fud.uinsaid.ac.id\/arsip\/wp-json\/wp\/v2\/pages"}],"about":[{"href":"https:\/\/pi.fud.uinsaid.ac.id\/arsip\/wp-json\/wp\/v2\/types\/page"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/pi.fud.uinsaid.ac.id\/arsip\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/pi.fud.uinsaid.ac.id\/arsip\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=361"}],"version-history":[{"count":21,"href":"https:\/\/pi.fud.uinsaid.ac.id\/arsip\/wp-json\/wp\/v2\/pages\/361\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":1609,"href":"https:\/\/pi.fud.uinsaid.ac.id\/arsip\/wp-json\/wp\/v2\/pages\/361\/revisions\/1609"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/pi.fud.uinsaid.ac.id\/arsip\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=361"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}