{"id":1146,"date":"2020-05-12T05:25:32","date_gmt":"2020-05-12T05:25:32","guid":{"rendered":"https:\/\/pi.fud.iain-surakarta.ac.id\/?p=1146"},"modified":"2020-05-12T05:25:46","modified_gmt":"2020-05-12T05:25:46","slug":"hmps-pi-selenggarakan-diskusi-online-problematika-pendidikan-dalam-masa-pandemi-covid-19","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/pi.fud.uinsaid.ac.id\/arsip\/2020\/05\/12\/hmps-pi-selenggarakan-diskusi-online-problematika-pendidikan-dalam-masa-pandemi-covid-19\/","title":{"rendered":"HMPS PI SELENGGARAKAN DISKUSI ONLINE \u201cPROBLEMATIKA PENDIDIKAN DALAM MASA PANDEMI COVID-19\u201d"},"content":{"rendered":"\n<p>Diskusi online yang diselenggarakan pada Minggu, 10 Mei 2020 berlangsung dari pukul 13.00 \u2013 15.00 WIB. Kegiatan ini merupakan salah satu kegiatan dari Himpunan Mahasiswa Program Studi Psikologi Islam di tengah pandemik Covid-19. Narasumber pada diskusi online ini yaitu Bapak Ahmad Saifuddin, M.Psi., PSIKOLOG. Dengan tema yang akan dibahas ialah \u201cProblematika Pendidikan Dalam Masa Pandemi Covid-19\u201d. Kegiatan diskusi online dibuka oleh Master Of Ceremony yaitu Siti Nurmauluddiana Putri (Pengurus HMPS PI Divisi PPSDM), kemudian akan di lanjutkan oleh moderator yaitu Miladdiyani Nur Hasanah (Pengurus HMPS PI Divisi Kominfo) untuk memulai sesi diskusi online. Berikut materi yang disampaikan oleh narasumber pada diskusi online ini :<\/p>\n\n\n\n<p>COVID-19 adalah penyakit menular\nyang disebabkan oleh jenis coronavirus jenis baru yang ditemukan. Ini merupakan\nvirus baru dan penyakit yang sebelumnya tidak dikenal sebelum terjadi wabah di\nWuhan, Tiongkok, bulan Desember 2019. Gejala-gejala COVID-19 yang paling umum\nadalah demam, rasa lelah, dan batuk kering. Beberapa pasien mungkin mengalami\nrasa nyeri dan sakit, hidung tersumbat, pilek, sakit tenggorokan atau diare,\nGejala-gejala yang dialami biasanya bersifat ringan dan muncul secara bertahap.\nBeberapa orang yang terinfeksi tidak menunjukkan gejala apa pun dan tetap\nmerasa sehat. Sebagian besar (sekitar 80%) orang yang terinfeksi berhasil pulih\ntanpa perlu perawatan khusus. Sekitar 1 dari 6 orang yang terjangkit COVID-19\nmenderita sakit parah dan kesulitan bernapas. Orang-orang lanjut usia (lansia)\ndan orang-orang dengan kondisi medis yang sudah ada sebelumnya seperti tekanan\ndarah tinggi, gangguan jantung atau diabetes, punya kemungkinan lebih besar\nmengalami sakit lebih serius. Mereka yang mengalami demam, batuk dan kesulitan\nbernapas sebaiknya mencari pertolongan medis.<\/p>\n\n\n\n<p>Penularan COVID-19 melalui\npercikan-percikan dari hidung atau mulut orang positif menderita COVID-19.\nPercikan tersebut bisa langsung mengenai benda-benda yang ada disekitar\nkemudian benda tersebut tersentuh orang lain, dan orang yang menyentuhnya\nkemudian memegang hidung, mata atau mulutnya singga akan bisa tertularkan.\nKemudian bisa juga percikan tersebut langsung terhirup orang lain yang juga\nbisa membuat orang lain tertularkan. Sehingga yang bisa dilakukan yaitu mendekatkan\ndiri pada Tuhan, menjaga kebersihan dan sering mencuci tangan dengan sabun, menjaga\njarak dan menghindari keramaian, menggunakan masker, menjaga kesehatan tubuh\ndan mengkonsumsi makanan &amp; minuman menyehatkan, hindari menyentuh bagian\nwajah. tetap tinggal di rumah, dukungan sosial. Dampak COVID-19 sangat besar\nyaitu bisa berdampak pada ekonomi, pendidikan, agama, dan juga politik.<\/p>\n\n\n\n<p>Problematika Pendidikan Akibat\nCovid-19 ada banyak. Narasumber berupaya merangkum dari berbagai pengalaman\nmahasiswa dan siswa yang dilihat, baik secara langsung maupun tidak langsung,\nyaitu pertama, penyesuaian pembelajaran daring. Kedua, kebosanan karena anjuran\nuntuk tetap tinggal dirumah saja, permasalahan teknologi seperti ketrbatasn sinyal,\nkapasitas gawai, serta juga kuota yang dikeluarkan untuk pembelajaran daring.\nKetiga, ketidakpastian kondisi kapan pandemi ini akan berakhir. Keempat,&nbsp; permasalahan pulang kampung atau tetap di kos\nyang dapat berdampak pada motivasi dan konsentrasi mahasiswa dalam belajar.\nKelima, penelitian skripsi yang tertunda karena harus menjaga jarak, sehingga\npenelitian yang memerlukan tatap muka mengalamai penundaan. Keenam, tinggal di\nrumah dengan anggota keluarga yang kurang disukai, Karen hal ini bisa\nmenimbulkan beban psikologis. Ketujuh, hoaks dan berita bohong akan menyebabkan\ntambahan masalah bagi mahasiswa karena akan melahirkan sikap yang semakin tidak\nadaptif.<\/p>\n\n\n\n<p>Solusi yang bisa kita tempuh dan\nwujudkan untuk mengatasi berbagai masalah tersebut. Terdapat beberapa solusi\nyang bisa kita lakukan, yaitu pertama, menjamin ketersediaan akses bantuan.\nKedua, bangun resiliensi yang mempunyai arti sebagai stamina emosional dan\ndigunakan untuk menjelaskan orang yang menunjukkan keberanian dan kemampuan\nberadaptasi pada situasi hidup yang sulit. Ketiga, membangun dukungan sosial.\nKeempat, tingkatkan efikasi diri yaitu keyakinan individu bahwa dirinya mampu\nuntuk menyelesaikan tugas, aktivitas, dan permasalahan. Kelima, menerapkan\nnilai kearifan lokal dan agama, hal ini akan membuat kita bersikap realistis,\ntidak mengeluh, dan tidak mengandai-andai. Keenam, membuat jadwal aktivitas yang\nbervariasi untuk mengatasi kebosanan selama harus dirumah. Ketujuh, meditasi\ndan afirmasi positif, meditasi dapat dilakukan untuk menghindarkan diri dari\nstress, dan afirmasi positif bisa dilakukan dengan membisikkan ke dalam diri\nbahwa diri mampu melewati permasalahan yang disebabkan Covid-19. Kedelapan, menetralisasi\nemosi negatif dengan menerapkan katarsis. Kesembilan, membangun komunikasi\nefektif. Kesepuluh, menata ulang penelitian, sehinga penelitian bisa dialihkan\ndengan mengubah strategi penelitiannya menjadi daring jika memungkinnkan.\nKesebelas, menyaring berita agar dapat terhindar dari berita-berita yang\nberdampak pada semakin besarnya kecemasan dan stres yang melanda diri kita.<\/p>\n\n\n\n<p>Ditulis oleh Risma Fameliya Wati (Divisi PPSDM)-HMPS\nPI 2020<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Diskusi online yang diselenggarakan pada Minggu, 10 Mei 2020 berlangsung dari pukul 13.00 \u2013 15.00 WIB. Kegiatan ini merupakan salah satu kegiatan dari Himpunan Mahasiswa Program Studi Psikologi Islam di tengah pandemik Covid-19. Narasumber pada diskusi online ini yaitu Bapak Ahmad Saifuddin, M.Psi., PSIKOLOG. Dengan tema yang akan dibahas ialah \u201cProblematika Pendidikan Dalam Masa Pandemi&hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":1149,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[38,6,40],"tags":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/pi.fud.uinsaid.ac.id\/arsip\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1146"}],"collection":[{"href":"https:\/\/pi.fud.uinsaid.ac.id\/arsip\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/pi.fud.uinsaid.ac.id\/arsip\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/pi.fud.uinsaid.ac.id\/arsip\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/pi.fud.uinsaid.ac.id\/arsip\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1146"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/pi.fud.uinsaid.ac.id\/arsip\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1146\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":1150,"href":"https:\/\/pi.fud.uinsaid.ac.id\/arsip\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1146\/revisions\/1150"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/pi.fud.uinsaid.ac.id\/arsip\/wp-json\/wp\/v2\/media\/1149"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/pi.fud.uinsaid.ac.id\/arsip\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1146"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/pi.fud.uinsaid.ac.id\/arsip\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1146"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/pi.fud.uinsaid.ac.id\/arsip\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1146"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}