{"id":1178,"date":"2020-07-07T09:19:00","date_gmt":"2020-07-07T09:19:00","guid":{"rendered":"https:\/\/pi.fud.iain-surakarta.ac.id\/?p=1178"},"modified":"2020-07-15T09:27:05","modified_gmt":"2020-07-15T09:27:05","slug":"prodi-psikologi-islam-selenggarakan-diskusi-dinamika-kepribadian-erich-fromm-eksistensi-manusia-dalam-filsafat-manusia","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/pi.fud.uinsaid.ac.id\/arsip\/2020\/07\/07\/prodi-psikologi-islam-selenggarakan-diskusi-dinamika-kepribadian-erich-fromm-eksistensi-manusia-dalam-filsafat-manusia\/","title":{"rendered":"PRODI PSIKOLOGI ISLAM SELENGGARAKAN DISKUSI DINAMIKA KEPRIBADIAN ERICH FROMM: EKSISTENSI MANUSIA DALAM FILSAFAT MANUSIA"},"content":{"rendered":"\n<p>Selasa, 07\/07\/2020 Program Studi Psikologi\nIslam menyelenggarakan diskusi dosen dengan judul \u201cFilsafat Manusia: dinamika\nKepribadian Erich Fromm.\u201d Diskusi diselenggarakan secara offline di ruang rapat\nFUD IAIN Surakarta juga dapat diakses melalui jaringan online melalui <em>zoom\nmeeting<\/em>. Dalam paparannya Bu Irma banyak mengulas bagaimana perjalanan\nkehidupan Erich Fromm sehingga dapat menghasilkan teori kepribadian yang\nberakar dari kehidupan sosial budaya. <\/p>\n\n\n\n<p>Narasumber menguraikan bagaimana eksistensi\nmanusia dipengaruhi oleh kebutuhan-kebutuhan dalam kehidupannya. Kebutuhan\neksistensial menurut Formm terbagi menjadi lima jenis yaitu 1) Kebutuhan akan\nidentitas (<em>Need For Identitiy),<\/em> 2)Kebutuhan akan keterhuungan pada dunia\n(<em>Need For Relatedness<\/em>), 3)Kebutuhan untuk menjadi ciptaan yang aktif (<em>Need\nFor Transendence),<\/em> 4) Kebutuhan keterakaran dengan ikatan-ikatan\npsikososial (<em>Need For Rootedness<\/em>) , dan 5) Kebutuhan untuk mengembangkan\ngambaran diri yang realistis (<em>Need For Frame of Orientation<\/em>). Kelima\nkebutuhan itulah yang memiliki peran dalam membentuk kepribadian manusia. Sehingga\nkepribadian yang sehat menurut Fromm dicirikan dengan kemampuan mengembangkan\nhidup sebagai makhluk social dalam masyarakat, mampu mencintai dan dicintai,\nmampu mempercayai dan dipercayai, mampu hidup bersolidaritas tanpa syarat,\nmampu menjaga jarak dengan orang lain tanpa syarat, dan memiliki watak social\nyang produktif. <\/p>\n\n\n\n<p>Diskusi yang dihadiri oleh seluruh dosen dari\njurusan yang ada di FUD dan juga peserta dari luar FUD menambah pembahasan\nmenjadi semakin kaya. Salah satu bahasan dalam diskusi merefleksikan bahwa\nteori yang dikemukakan oleh Fromm merupakan konsep-konsep yang juga sudah ada\ndalam ajaran Islam dengan terminologi-teminologi lain. Refleksi ini menunjukkan\nbahwa para pakar psikologi barat sejatinya mengemukakan banyak teori \/ konsep positif\ntentang manusia. Meskipun tidak lepas dari kritik terhadap teorinya, eksistensi\nmanusiai di pandang dari teori Kepribadian Erich Fromm dapat menjadi diskursus\nmenarik dari sudut pandang psikologi dan studi Islam. <\/p>\n\n\n\n<p>Ditulis oleh Wakhid Musthofa, M. Psi., PSIKOLOG \u2013 Dosen Psikologi Islam<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Selasa, 07\/07\/2020 Program Studi Psikologi Islam menyelenggarakan diskusi dosen dengan judul \u201cFilsafat Manusia: dinamika Kepribadian Erich Fromm.\u201d Diskusi diselenggarakan secara offline di ruang rapat FUD IAIN Surakarta juga dapat diakses melalui jaringan online melalui zoom meeting. Dalam paparannya Bu Irma banyak mengulas bagaimana perjalanan kehidupan Erich Fromm sehingga dapat menghasilkan teori kepribadian yang berakar dari&hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":1179,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[24],"tags":[26],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/pi.fud.uinsaid.ac.id\/arsip\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1178"}],"collection":[{"href":"https:\/\/pi.fud.uinsaid.ac.id\/arsip\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/pi.fud.uinsaid.ac.id\/arsip\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/pi.fud.uinsaid.ac.id\/arsip\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/pi.fud.uinsaid.ac.id\/arsip\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1178"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/pi.fud.uinsaid.ac.id\/arsip\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1178\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":1181,"href":"https:\/\/pi.fud.uinsaid.ac.id\/arsip\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1178\/revisions\/1181"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/pi.fud.uinsaid.ac.id\/arsip\/wp-json\/wp\/v2\/media\/1179"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/pi.fud.uinsaid.ac.id\/arsip\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1178"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/pi.fud.uinsaid.ac.id\/arsip\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1178"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/pi.fud.uinsaid.ac.id\/arsip\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1178"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}