{"id":1376,"date":"2021-02-28T04:51:46","date_gmt":"2021-02-28T04:51:46","guid":{"rendered":"https:\/\/pi.fud.iain-surakarta.ac.id\/?p=1376"},"modified":"2021-03-01T05:09:21","modified_gmt":"2021-03-01T05:09:21","slug":"santri-di-manapun-tempat-dan-perannya-adalah-contoh-visual-role-model-keteladanan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/pi.fud.uinsaid.ac.id\/arsip\/2021\/02\/28\/santri-di-manapun-tempat-dan-perannya-adalah-contoh-visual-role-model-keteladanan\/","title":{"rendered":"Santri, di Manapun Tempat dan Perannya adalah Contoh Visual (Role Model) Keteladanan"},"content":{"rendered":"\n<p><strong>Sabtu\n<\/strong>(27\/2\/2021),\ndosen Psikologi Islam Faktultas Ushuluddin dan Dakwah IAIN Surakarta melakukan\nkegiatan Pengabdian kepada Masyarakat Berbasis Program Bermutu dengan tema, \u201c<em>Menjadi Santri Penggerak: Terampil Memahami Diri untuk Perubahan Diri dan\nSosial,<\/em>\u201d di Madrasah\nTsanawiyah (MTs) Pondok Pesantren Al-Ikhlas, Dawar, Mojosongo, Boyolali. Dosen\nProdi Psikologi Islam yang mengikuti Pengabdian Masyarakat di tempat ini adalah\nTriyono, M.Si., Vera Imanti, S.Psi., M.Psi., Psikolog.,\ndan Dhestina Religia Mujahid, S.Psi., M.A., M.M. Tujuan\nkegiatan pengabdian ini adalah berbagi pengetahuan (<em>knowledge sharing<\/em>) tentang strategi memahami diri, dimulai dari menemukan jati diri, mengevaluasi dan\nmemperbaiki kekurangan yang dimiliki, dan memaksimalkan potensi diri. Dengan\nkemampuan memahami diri, santri diharapkan mampu menjadi <em>role model<\/em> dan memberikan kemanfaat untuk kemaslahatan umat dan\nbangsa. <\/p>\n\n\n\n<p>Triyono menjelaskan\nbahwa santri merupakan contoh visual atau <em>role\nmodel<\/em> keteladanan di masyarakat berkat peran-peran yang dilakukannya.\nTerdapat beberapa Pahlawan Nasional yang berlatar belakang santri, seperti KH.\nHasyim Asy\u2019ari, KH. A. Wahab Hasbullah, KH. Bisri Syansuri, dan KH. Wahid\nHasyim. Pada bidang politik pemerintahan, sosok santri pernah menjadi Presiden\n(Gus Dur), menteri kabinet, anggota DPR\/MPR, duta besar, gubernur, walikota,\nbupati dan jabatan-jabatan publik lainnya. Hal ini menjadi penanda bahwa\nmenjadi santri, karirnya tidak terbatas pada pengabdian pada bidang sosial\nkemasyarakatan saja. Tetapi, bisa merambah ke berbagai bidang kehidupan lain. <\/p>\n\n\n\n<p>Santri menurut\nTriyono, setidaknya memiliki tiga cakupan makna, yaitu santri sebagai identitas\nkesarjanaan (keilmuan), identitas spiritualitas, dan identitas pergerakan. Maka,\ndi manapun tempat dan perannya santri akan selalu menjadi contoh visual (<em>role model<\/em>) keteladanan. <em>Role model<\/em> sendiri\nberarti seseorang\nyang dijadikan oleh seseorang\/sekelompok orang sebagai teladan hidup, panutan,\natau pemberi inspirasi bagi orang lain. Santri perlu bangga dengan\nidentitas dirinya tersebut. Bangga menjadi santri (<em>proud to be a<\/em> santri) berarti merasa bangga menjadi bagian\ndari identitas sebagai santri dan akan mengerahkan\npotensi yang dimilik untuk menjaga dan menjunjung\ntingga identitas ke-santrian-nya\ntersebut, kapan dan di manapun berada<em>.<\/em><em><\/em><\/p>\n\n\n\n<p><em>&nbsp;\u201cSantri itu harus\nsiap ketika ditunjuk menjadi imam salat jenazah, khatib Jumat, atau memberikan\ntausiyah secara dadakan atau tanpa persiapan. Sebab, santri itu sudah mumpuni\ndalam hal ilmu agama dan pastinya punya reliogisitas-spritualitas yang tinggi.\nJadi, masyarakat sangat percaya dengan kapasitas dan kapabelitas santri. Jadi, berbangga-lah\ndengan identitas kesantrian kita<\/em>,\u201d\nPungkas Triyono.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"1017\" height=\"763\" src=\"https:\/\/pi.fud.iain-surakarta.ac.id\/wp-content\/uploads\/2021\/03\/2.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-1378\" srcset=\"https:\/\/pi.fud.uinsaid.ac.id\/arsip\/wp-content\/uploads\/2021\/03\/2.jpg 1017w, https:\/\/pi.fud.uinsaid.ac.id\/arsip\/wp-content\/uploads\/2021\/03\/2-150x113.jpg 150w, https:\/\/pi.fud.uinsaid.ac.id\/arsip\/wp-content\/uploads\/2021\/03\/2-1000x750.jpg 1000w, https:\/\/pi.fud.uinsaid.ac.id\/arsip\/wp-content\/uploads\/2021\/03\/2-768x576.jpg 768w\" sizes=\"(max-width: 1017px) 100vw, 1017px\" \/><\/figure>\n\n\n\n<p>Dhestina\nReligia Mujahid, menjelaskan untuk menjadi <em>role\nmodel<\/em> perubahan, santri harus lebih dahulu mengenali diri sendiri. Artinya,\nsantri harus memiliki kemampuan untuk memahami diri secara utuh, seperti memahami\njati diri dan identitasnya, mampu mengevaluasi\ndan memperbaiki kekurangan, serta mampu memaksimalkan potensi diri dan\nmemperbaiki kekuranan dalam diri. <\/p>\n\n\n\n<p>Santri\nremaja yang saat ini belajar di pondok pesantren, menurut Bu Gia, panggilan\nakrabnya&#8211; perlu mengetahui dirinya dengan baik. Beliau mengingatkan bahwa\nseseorang, termasuk santri akan mengalami masalah emosional seperti mudah marah\ndan sedih serta kebingungan dalam menentukan orientasi dan tujuan hidup jika\ntidak dapat memahami diri dengan baik. Dengan mengetahui identitas diri, individu\ndapat mengetahui kelebihan dan kekurangan diri, lebih mudah mengelola suasana\nhati, serta lebih bijak dan tenang jika dihadapkan dengan situasi sulit. Mengetahui\nkelebihan diri dengan baik, individu dapat mengasah kelebihan yang dimiliki dan\nmemperbaiki kekurangannya. Pada akhirnya, seorang individu yang telah\nmengetahui jati diri dan memaksimalkan potensi diri dapat bermanfaat tidak\nhanya untuk dirinya sendiri tetapi juga untuk umat.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"1379\" height=\"1034\" src=\"https:\/\/pi.fud.iain-surakarta.ac.id\/wp-content\/uploads\/2021\/03\/3.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-1379\" srcset=\"https:\/\/pi.fud.uinsaid.ac.id\/arsip\/wp-content\/uploads\/2021\/03\/3.jpg 1379w, https:\/\/pi.fud.uinsaid.ac.id\/arsip\/wp-content\/uploads\/2021\/03\/3-150x112.jpg 150w, https:\/\/pi.fud.uinsaid.ac.id\/arsip\/wp-content\/uploads\/2021\/03\/3-1000x750.jpg 1000w, https:\/\/pi.fud.uinsaid.ac.id\/arsip\/wp-content\/uploads\/2021\/03\/3-768x576.jpg 768w\" sizes=\"(max-width: 1379px) 100vw, 1379px\" \/><\/figure>\n\n\n\n<p>Di\nkesempatan selanjutnya, Vera Imanti menjelaskan tentang perlunya meng-<em>upgrade\n<\/em>diri. <em>Upgrade <\/em>diri merupakan hal yang penting. Terdapat lima alasan\nmengapa hal tersebut penting, yaitu: 1)\nIngatlah bahwa Allah SWT melihat semua perbuatan kita, maka lakukanlah hal-hal\nyang baik dan positif, 2) ketika mengupgrade diri, maka dapat bermanfaat juga\nuntuk orang lain. Bisa membantu lingkungan, membantu keluarga, dan lain-lain, 3)\nilmu, isilah diri kita dengan ilmu, ilmu yang didapat dari mana saja. Bahwa\njika lautan itu tinta, dan bumi adalah penanya, maka tidak akan cukup tinta itu\nuntuk menuliskan semua ilmunya Allah, 4) perkembangan zaman yang semakin maju,\nmaka diri ini harus siap untuk beradaptasi, jangan sampai kita manusia yang\ndikendalikan oleh tekhnologi, dan 5) mencipatakan kerukunan. <\/p>\n\n\n\n<p><em>\u201cDengan mengingat\npoin 1, 2, dan 3,kita pastinya akan memilih untuk menjauhkan diri dari konflik,\njustru dengan ilmu dan ketaqwaan pada Allah kita akan mencipatakan kerukunan<\/em><em>,\u201d<\/em> tegas Vera Imanti.<\/p>\n\n\n\n<p>Di akhir\npemaparan, Bu Vera, -panggilan akrapnya- memberikan tips sederhana agar santri dapat\nmeningkatkan kebiasaan baik. Dengan kebiasaan dan perilaku yang ditampakkan,\nmaka hal tersebut akan menjadi identitas diri yang melekat. Aplikasi tips tersebut\nberupa permainan mengenal diri dari orang lain melalui teknik <em>Johari Window<\/em>. Para\nsantri saling bertukar kertas untuk menilai kelebihan dan kekurangan dari teman\nmereka sendiri. <\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-gallery columns-2 is-cropped wp-block-gallery-1 is-layout-flex wp-block-gallery-is-layout-flex\"><li class=\"blocks-gallery-item\"><figure><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"572\" height=\"763\" src=\"https:\/\/pi.fud.iain-surakarta.ac.id\/wp-content\/uploads\/2021\/03\/4.jpg\" alt=\"\" data-id=\"1381\" data-link=\"https:\/\/pi.fud.iain-surakarta.ac.id\/?attachment_id=1381\" class=\"wp-image-1381\" srcset=\"https:\/\/pi.fud.uinsaid.ac.id\/arsip\/wp-content\/uploads\/2021\/03\/4.jpg 572w, https:\/\/pi.fud.uinsaid.ac.id\/arsip\/wp-content\/uploads\/2021\/03\/4-112x150.jpg 112w\" sizes=\"(max-width: 572px) 100vw, 572px\" \/><\/figure><\/li><li class=\"blocks-gallery-item\"><figure><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"568\" height=\"757\" src=\"https:\/\/pi.fud.iain-surakarta.ac.id\/wp-content\/uploads\/2021\/03\/5.jpg\" alt=\"\" data-id=\"1382\" data-link=\"https:\/\/pi.fud.iain-surakarta.ac.id\/?attachment_id=1382\" class=\"wp-image-1382\" srcset=\"https:\/\/pi.fud.uinsaid.ac.id\/arsip\/wp-content\/uploads\/2021\/03\/5.jpg 568w, https:\/\/pi.fud.uinsaid.ac.id\/arsip\/wp-content\/uploads\/2021\/03\/5-113x150.jpg 113w\" sizes=\"(max-width: 568px) 100vw, 568px\" \/><\/figure><\/li><\/ul>\n\n\n\n<p>Teori <em>Johari window<\/em> menurut Vera Imanti, merupakan teori tentang perilaku maupun pikiran yang ada di dalam diri sendiri maupun di dalam diri orang lain. Konsep teori\u00a0<em>Johari window<\/em>\u00a0memiliki empat ruang atau empat perspektif yang masing-masing memiliki istilah dan makna yang berbeda. Setiap makna mengandung pemahaman-pemahaman yang mempengaruhi pandangan seseorang. Apakah perilaku, perasaan, dan kesadaran yang dimiliki hanya dapat dipahami oleh dirinya sendiri, hanya dipahami oleh orang lain, atau keduanya dapat memahaminya. <em>Johari window<\/em> dapat digunakan untuk membantu orang dalam memahami hubungan antara dirinya sendiri dan orang lain.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"1188\" height=\"891\" src=\"https:\/\/pi.fud.iain-surakarta.ac.id\/wp-content\/uploads\/2021\/03\/6.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-1383\" srcset=\"https:\/\/pi.fud.uinsaid.ac.id\/arsip\/wp-content\/uploads\/2021\/03\/6.jpg 1188w, https:\/\/pi.fud.uinsaid.ac.id\/arsip\/wp-content\/uploads\/2021\/03\/6-150x113.jpg 150w, https:\/\/pi.fud.uinsaid.ac.id\/arsip\/wp-content\/uploads\/2021\/03\/6-1000x750.jpg 1000w, https:\/\/pi.fud.uinsaid.ac.id\/arsip\/wp-content\/uploads\/2021\/03\/6-768x576.jpg 768w\" sizes=\"(max-width: 1188px) 100vw, 1188px\" \/><\/figure>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"1188\" height=\"829\" src=\"https:\/\/pi.fud.iain-surakarta.ac.id\/wp-content\/uploads\/2021\/03\/7.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-1380\" srcset=\"https:\/\/pi.fud.uinsaid.ac.id\/arsip\/wp-content\/uploads\/2021\/03\/7.jpg 1188w, https:\/\/pi.fud.uinsaid.ac.id\/arsip\/wp-content\/uploads\/2021\/03\/7-150x105.jpg 150w, https:\/\/pi.fud.uinsaid.ac.id\/arsip\/wp-content\/uploads\/2021\/03\/7-1000x698.jpg 1000w, https:\/\/pi.fud.uinsaid.ac.id\/arsip\/wp-content\/uploads\/2021\/03\/7-768x536.jpg 768w\" sizes=\"(max-width: 1188px) 100vw, 1188px\" \/><\/figure>\n\n\n\n<p>Acara pengabdian kepada masyarakat ini bertempat di salah satu ruang madrasah dan \u00a0diikuti perwakilan guru (asatidz), santri yang berjumlah 30 orang, dan mahasiswa Psikologi Islam. Kegiatan pengabdian diakhiri dengan penyerahan kenang-kenangan kepada perwakilan santri dan foto bersama. <\/p>\n\n\n\n<p><strong>Ditulis oleh Triyono\/Gia\/Vera-PI<\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sabtu (27\/2\/2021), dosen Psikologi Islam Faktultas Ushuluddin dan Dakwah IAIN Surakarta melakukan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat Berbasis Program Bermutu dengan tema, \u201cMenjadi Santri Penggerak: Terampil Memahami Diri untuk Perubahan Diri dan Sosial,\u201d di Madrasah Tsanawiyah (MTs) Pondok Pesantren Al-Ikhlas, Dawar, Mojosongo, Boyolali. Dosen Prodi Psikologi Islam yang mengikuti Pengabdian Masyarakat di tempat ini adalah Triyono,&hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":1377,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[24,30],"tags":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/pi.fud.uinsaid.ac.id\/arsip\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1376"}],"collection":[{"href":"https:\/\/pi.fud.uinsaid.ac.id\/arsip\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/pi.fud.uinsaid.ac.id\/arsip\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/pi.fud.uinsaid.ac.id\/arsip\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/pi.fud.uinsaid.ac.id\/arsip\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1376"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/pi.fud.uinsaid.ac.id\/arsip\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1376\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":1384,"href":"https:\/\/pi.fud.uinsaid.ac.id\/arsip\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1376\/revisions\/1384"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/pi.fud.uinsaid.ac.id\/arsip\/wp-json\/wp\/v2\/media\/1377"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/pi.fud.uinsaid.ac.id\/arsip\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1376"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/pi.fud.uinsaid.ac.id\/arsip\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1376"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/pi.fud.uinsaid.ac.id\/arsip\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1376"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}