{"id":1550,"date":"2021-08-21T07:16:57","date_gmt":"2021-08-21T07:16:57","guid":{"rendered":"https:\/\/pi.fud.iain-surakarta.ac.id\/?p=1550"},"modified":"2021-09-08T02:21:38","modified_gmt":"2021-09-08T02:21:38","slug":"orang-tua-dan-pjj-oleh-gadis-deslinda-dosen-psikologi-islam-uin-raden-mas-said-surakarta","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/pi.fud.uinsaid.ac.id\/arsip\/2021\/08\/21\/orang-tua-dan-pjj-oleh-gadis-deslinda-dosen-psikologi-islam-uin-raden-mas-said-surakarta\/","title":{"rendered":"orang tua dan pjj oleh gadis deslinda, dosen psikologi islam uin raden mas said surakarta"},"content":{"rendered":"\n<p>Sudah setahun\nlebih sekolah harus menjalani pembelajaran jaraj jauh (PJJ) atau daring karena\npandemic belum berakhir. Peran orang tua sangat vital dalam PJJ ini. Sebab itu,\norang tua harus memahami kondisi psikologi si anak. Terutama siswa jenjang\ntaman kanak-kanak (TK) dan sekolah dasar (SD). <\/p>\n\n\n\n<p>Ada beberapa\ntips cara orang tua dalam menemani anak belajar. Pertama, orang tua harus bisa\nmengamati gaya belajar anak. Yakni gaya belajar auditori ( pendengaran ),\nvisual ( penglihatan, dan kinestetik( gerak).<\/p>\n\n\n\n<p>Jika gaya\nbelajar auditori, anak lebih dominan mendengarkan. Berarti si anak lebih\nmenyukai suara-suara yang menarik perhatiannya. Di sini orang tua diminta aktif\nberbicara. Bis ajuga mencari variasi menarik. Contohnya belajar dengan lagu,\nmusic, dan lainnya. <\/p>\n\n\n\n<p>Sedangkan gaya\nbelajar visual adalah anak dominan melihat. Pembelajaran bisa dengan bentuk\ngambar yang menarik, dan bervariasi warna. Sehingga anak tertarik dan mudah memahami\nsuatu pembelajaran. Selanjutnya gaya belajar kinestetik itu lewat gerakan. Jadi\nanak tidak bisa diam. Sebagai orang tua bisa gunakan media yang bisa digerakan.\nMisalnya bola berwarna-warni dimasukan ke gelas atau memantul, lalu anak\nmenghitung. <\/p>\n\n\n\n<p>Setelah memahami\ngaya belajar anak, orang tua bisa membuat jadwal harian disesuaikan keinginan\nanak seperti apa, namun tidak menutup kemungkinan untuk mengikuti gaya belajar\nlainnya. Misalnya dominan ke gaya belajar visual, auditori juga bisa\nditerapkan. Artinya bisa diselang-seling. Agar semua indra atau motoriknya\nbekerja. <\/p>\n\n\n\n<p>Akan ada\nkeseimbangan. Misalnya dominan ke gaya belajar visual saja. Nanti auditoria\natau kinetik kurang berfungsi. Sehingga ada kelemahan. Nah, bisa dibuat jadwal\nharian. Supaya bisa menentukan atau melihat si anak bisa mengatur jadwalnya.\nJadi belajar tidak membosankan.<\/p>\n\n\n\n<p>Saat jadwal\nharian sudah dibuat, tetap berikan jeda. Caranya bervariasi, missal belajar\nmembuat tugas dari sekolah. Nanti divariasikan dengan ide-ide yang dibuat\nsendiri. Nah, berkaitan dengan pembelajaran si anak tersebut. <\/p>\n\n\n\n<p>Ambil contoh,\npada jam pemeblajaran pertama anak TK itu menggambar. Setelah selesai, orang\ntua bisa membuat jadwal lainnya. Bisa dengan mengajak anak melakukan hal lain.\nMisalnya mengajak menjemur pakaian. Di dalam kegiatan itu, bisa sekaligus\nmengajari anak menjemur sambal berhitung . atau mengenal warna baju. <\/p>\n\n\n\n<p>Kunci lainnya\nadalah membuat anak belajar dengan nyaman dan tidak membosankan. Nyamannya itu\nseperti apa ? lihat kondisi emosional sia anak. Apalagi anak TK \u2013SD, ketika dia\ntidak mood, biarkan bermain dahulu. Baru didekati <\/p>\n\n\n\n<p>Dahulu. Baru\ndidekati dan ditanya, mau belajar apa tidak hari ini? Jadi, anak tidak merasa\ntertekan. Orang tua bisa mem- beri kebebasan kepada anak untuk mempelajari\nsesuatu. Ketika dia sudah bosan biarkan beristirahat. Jad\u00ed belajar tidak harus\ndalam waktu lama, apala- gi anak TK-SD.<\/p>\n\n\n\n<p>\u00a0Kemudian biasanya dulu sebelum pandemi, orang tua hampir 100 persen menyerah- kan anak ke sekolah. Tapi di masa ini, keterlibatan orang tua sangat penting dalam dampingi anak belajar. Artinya, pendampingan belajar ini seka- ligus pendekatan ikatan emosional. Jadi ketika belajar anak merasa enjoy dan merasa diperhatikan orang tuanya. Mengambil hikmahnya di pandemi ini, orang tua justru bisa menikmati keseharian bersama buah hatinya. Sekaligus men- dekatkan dengan anak. (Ditulis, di Harian Jawa Pos Radar Solo)<\/p>\n\n\n\n<p><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sudah setahun lebih sekolah harus menjalani pembelajaran jaraj jauh (PJJ) atau daring karena pandemic belum berakhir. Peran orang tua sangat vital dalam PJJ ini. Sebab itu, orang tua harus memahami kondisi psikologi si anak. Terutama siswa jenjang taman kanak-kanak (TK) dan sekolah dasar (SD). Ada beberapa tips cara orang tua dalam menemani anak belajar. Pertama,&hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[43,1],"tags":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/pi.fud.uinsaid.ac.id\/arsip\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1550"}],"collection":[{"href":"https:\/\/pi.fud.uinsaid.ac.id\/arsip\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/pi.fud.uinsaid.ac.id\/arsip\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/pi.fud.uinsaid.ac.id\/arsip\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/pi.fud.uinsaid.ac.id\/arsip\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1550"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/pi.fud.uinsaid.ac.id\/arsip\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1550\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":1551,"href":"https:\/\/pi.fud.uinsaid.ac.id\/arsip\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1550\/revisions\/1551"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/pi.fud.uinsaid.ac.id\/arsip\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1550"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/pi.fud.uinsaid.ac.id\/arsip\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1550"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/pi.fud.uinsaid.ac.id\/arsip\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1550"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}