{"id":525,"date":"2019-05-29T15:37:02","date_gmt":"2019-05-29T15:37:02","guid":{"rendered":"https:\/\/pi.fud.iain-surakarta.ac.id\/?p=525"},"modified":"2019-06-13T15:48:14","modified_gmt":"2019-06-13T15:48:14","slug":"makna-kemenangan-di-akhir-bulan-ramadan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/pi.fud.uinsaid.ac.id\/arsip\/2019\/05\/29\/makna-kemenangan-di-akhir-bulan-ramadan\/","title":{"rendered":"Makna Kemenangan di Akhir Bulan Ramadan"},"content":{"rendered":"\n<div class=\"wp-block-image\"><figure class=\"alignleft is-resized\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" src=\"https:\/\/pi.fud.iain-surakarta.ac.id\/wp-content\/uploads\/2019\/06\/gg-2679x3000.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-531\" width=\"178\" height=\"199\" srcset=\"https:\/\/pi.fud.uinsaid.ac.id\/arsip\/wp-content\/uploads\/2019\/06\/gg-2679x3000.jpg 2679w, https:\/\/pi.fud.uinsaid.ac.id\/arsip\/wp-content\/uploads\/2019\/06\/gg-134x150.jpg 134w, https:\/\/pi.fud.uinsaid.ac.id\/arsip\/wp-content\/uploads\/2019\/06\/gg-893x1000.jpg 893w, https:\/\/pi.fud.uinsaid.ac.id\/arsip\/wp-content\/uploads\/2019\/06\/gg-768x860.jpg 768w\" sizes=\"(max-width: 178px) 100vw, 178px\" \/><figcaption>Ahmad Mujahid<\/figcaption><\/figure><\/div>\n\n\n\n<p>Allaahu akbar, Allaahu\nakbar, Allaahu akbar, Laa illaa haillallah-huwaallaahuakbar, Allaahu akbar\nwalillaahil hamd. Minal Aidzin wal Faidzin. Mohon maaf lahir dan batin. Gema\ntakbir dan ucapan saling memaafkan akan segera kita dengar, setelah usai\nmenjalankan serangkaian ibadah di bulan Ramadan. Bulan Ramadan adalah momentum\numat Islam yang dijumpai setahun sekali dalam satu bulan, tentu menjadi\nkesempatan yang luar biasa bagi seorang muslim yang masih bisa berjumpa dan\nmelaksanakan serangkaian perintah-Nya. <\/p>\n\n\n\n<p>Bulan Ramadan seperti\nyang tercantum dalam Q. S. Al-Baqarah\/2 : 185 , umat muslim diwajibkan berpuasa\npada bulan Ramadan yang sekaligus sebagai bulan permulaan turunnya Al-Quran.<\/p>\n\n\n\n<div class=\"wp-block-image\"><figure class=\"aligncenter is-resized\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" src=\"https:\/\/pi.fud.iain-surakarta.ac.id\/wp-content\/uploads\/2019\/06\/gg-1.png\" alt=\"\" class=\"wp-image-530\" width=\"535\" height=\"247\" srcset=\"https:\/\/pi.fud.uinsaid.ac.id\/arsip\/wp-content\/uploads\/2019\/06\/gg-1.png 472w, https:\/\/pi.fud.uinsaid.ac.id\/arsip\/wp-content\/uploads\/2019\/06\/gg-1-150x69.png 150w\" sizes=\"(max-width: 535px) 100vw, 535px\" \/><\/figure><\/div>\n\n\n\n<p>Artinya :<\/p>\n\n\n\n<p><em>\u201c(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah)\nbulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai\npetunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan\npembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara\nkamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia\nberpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia\nberbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya\nitu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak\nmenghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan\nhendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu,\nsupaya kamu bersyukur.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Puasa\nadalah menahan makan, minum, dan segala hal yang membatalkan puasa dari terbit\nfajar hingga terbenamnya matahari. Puasa sebenarnya adalah ibadah personal yang\nmemiliki tujuan membentuk pribadi yang takwa, karena Allah SWT memberi label\norang yang paling mulia adalah orang yang bertakwa (Q. S.Al-Hujuurat\/49:13).\nDalam pribadi yang takwa terdapat salah satu indikator khas yakni pengendalian\ndiri. Menurut B. F. Skinner, pengendalian diri atau kontrol diri merupakan\ntindakan diri dalam mengontrol variabel-variabel luar yang menentukan tingkah\nlaku. Dan tingkah laku dapat dikendalikan melalui berbagai cara yaitu\nmenghindar, penjenuhan, stimuti yang tidak disukai, dan memperkuat diri\n(Alwisol, 2009). Pengendalian diri merupakan kunci seseorang agar bisa bertahan\ndari segala stimulus yang membuat tidak optimal menjalankan perintah Allah SWT\natau bahkan bisa menjadi potensi untuk menjerumuskan diri pada larangan Allah\nSWT.<\/p>\n\n\n\n<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Bulan\nRamadan tidak hanya menjadi ukuran sukses atau tidaknya seorang muslim menahan\nlapar dan dahaga, namun bulan yang di dalamnya terdapat serangkaian perintah\nyang dikemas dalam bentuk perintah aktif maupun momen peristiwa yang terjadi\npada bulan Ramadan, yang berimplikasi pada suatu program pembentukan\nkepribadian. Pribadi takwa adalah menjadi <em>main goal<\/em> dari perintah\nberpuasa. Namun istilah \u201ctakwa\u201d sendiri masih umum, maka perlu mengkongkritkan\nagar tahu sejauh mana seorang muslim mencapai pribadi takwa.<\/p>\n\n\n\n<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Kata\n\u201ctakwa\u201d sendiri tercantum dalam Al-Quran sebanyak 259 kali, dengan segala\nbentuknya mulai dari perintah, julukan, hingga cara bagaimana seseorang\nmendapat predikat takwa. Hal ini semakin memperkuat bahwa perilaku takwa perlu\ndilatih agar bisa terinternalisasi dalam diri seorang muslim. Takwa secara\nistilah menurut M. Ali as-Sabuni adalah sebagai rasa takut akan murka Allah dan\nmencegah siksaan-Nya dengan mematuhi perintah dan menjauhi larangan-Nya.<\/p>\n\n\n\n<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Dalam\nteori kepribadian, faktor pembentuk kepribadian diantaranya adalah pengalaman\nindividu <em>(individual experience)<\/em>, yakni pengalaman yang dirasakan oleh\nsetiap individu melalui tindakan yang dilakukan secara sadar. Pengalaman\nindividu tidak sekedar menambah wawasan tetapi dapat menyatu pada pembentuk\nkepribadian seseorang. Dalam hal ini pengalaman menjalankan berpuasa, umumnya\nseorang muslim tidak langsung bisa menjalankan puasa sehari penuh; sejak kecil\nanak dikenalkan apa itu puasa, kemudian mengenal bagaimana berpuasa, kemudian\nmencoba berpuasa walaupun tidak langsung seharian penuh (dalam tradisi yang\npenulis tempati biasanya melatih anak-anak dengan istilah, \u201c<em>puasa bedug<\/em>\u201d,\nyakni puasa setengah hari lalu berbuka puasa saat adzan dzuhur kemudian lanjut\nberpuasa sampai adzan maghrib, \u201c<em>puasa ngasar<\/em>\u201d, yakni puasa setengah hari\nlebih lalu berbuka puasa saat adzan asar kemudian lanjut berpuasa sampai adzan\nmaghrib). Pengalaman berpuasa yang diulang-ulang dari usia anak-anak hingga\ndewasa memberi bentukan <em>(shapping)<\/em> untuk melatih mengendalikan diri atau\n<em>self-control.<\/em> Begitu juga dengan pengalaman yang diajarkan oleh orang\ndisekitar.<\/p>\n\n\n\n<p>Kemudian faktor lain\nadalah pengalaman kelompok manusia (<em>group experience)<\/em>, yakni kehidupan\nmanusia dipengaruhi oleh kelompoknya (suku, ras, agama, maupun kelompok kecil\nlain), setiap kelompok manusia akan mempengaruhi anggota kelompoknya,\npengalaman tersebut terulang-ulang dalam hidup seseorang yang kemudian menjadi\nfaktor pembentuk kepribadian. Dalam mencapai pribadi takwa pada bulan Ramadan,\nseorang muslim tidak hanya beribadah personal namun juga tercipta suasana untuk\nsaling berbagi melalui reflek psikologis (naluri hati nurani); berbagi makanan\nsaat buka puasa, menyantuni mustahiq zakat, dan saling menggugurkan kesalahan\n(di Indonesia ada budaya mudik untuk silaturahmi sanak saudara). Perilaku\ntersebut dikondisikan dan diulang setiap tahun pada momen bulan Ramadan, dengan\nharapan seorang muslim memiliki sikap peduli antar sesama, meningkatkan\nkepekaan sosial, dan memperkuat semangat persatuan yang damai sebagai agama <em>rahmatan\nlil alamiin<\/em>. <em>&nbsp;<\/em><\/p>\n\n\n\n<p>Dengan demikian perintah\nmaupun keutamaan pada bulan Ramadan, dijalankan tidak hanya sebagai gugur\nkewajiban, namun sebagai sekolah kepribadian takwa bagi seorang muslim. Pada\npuncaknya di hari yang fitri umat muslim diseluruh dunia merayakan dengan suka\ncita, berkumpul dengan sanak keluarga, saling berbagi sesama, dan saling\nmemaafkan. Tentu kualitas kemenangan masing individu berbeda, tergantung sejauh\nmana seorang muslim berjuang menjalankan sekolah kepribadian tersebut. <\/p>\n\n\n\n<p>Semoga kita semua\ntermasuk hamba-Nya yang senantiasa berusaha maksimal untuk menjadi orang yang\npaling mulia disisi-Nya, yakni orang yang bertakwa. <em>Aamiin Yaa Rabbal \u2018\nAlamiin<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Allaahu akbar, Allaahu akbar, Allaahu akbar, Laa illaa haillallah-huwaallaahuakbar, Allaahu akbar walillaahil hamd. Minal Aidzin wal Faidzin. Mohon maaf lahir dan batin. Gema takbir dan ucapan saling memaafkan akan segera kita dengar, setelah usai menjalankan serangkaian ibadah di bulan Ramadan. Bulan Ramadan adalah momentum umat Islam yang dijumpai setahun sekali dalam satu bulan, tentu menjadi&hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[7],"tags":[10],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/pi.fud.uinsaid.ac.id\/arsip\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/525"}],"collection":[{"href":"https:\/\/pi.fud.uinsaid.ac.id\/arsip\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/pi.fud.uinsaid.ac.id\/arsip\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/pi.fud.uinsaid.ac.id\/arsip\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/pi.fud.uinsaid.ac.id\/arsip\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=525"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/pi.fud.uinsaid.ac.id\/arsip\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/525\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":532,"href":"https:\/\/pi.fud.uinsaid.ac.id\/arsip\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/525\/revisions\/532"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/pi.fud.uinsaid.ac.id\/arsip\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=525"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/pi.fud.uinsaid.ac.id\/arsip\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=525"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/pi.fud.uinsaid.ac.id\/arsip\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=525"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}