Bangli, Rabu, 5 Februari 2025. Program Studi Psikologi Islam Fakultas Ushuluddin dan Dakwah UIN Raden Mas Said Surakarta melakukan Kunjungan akademik dalam bentuk Kuliah Kerja Lapangan (KKL) di Desa Adat Panglipuran, Bali. Kunjungan ke Desa Adat Penglipuran, Bali bertujuan untuk mengenal lebih dalam tentang pemeliharaan well-being masyarakat yang saat ini dinobatkan sebagai salah satu desa terbersih di dunia. Hadir dalam kunjungan ini adalah 153 peserta terdiri dari Wakil Dekan 3 bidang Kemahasiswaan, Kerjasama, dan Alumni FUD, Dr. Nur Sidik, M.Hum; Ketua Jurusan Psikologi dan Psikoterapi FUD, Dr. Retno Pangestuti, M.Psi. Psikolog; Korprodi Psikologi Islam, Triyono, M,Si; Dosen Pendamping Lapangan (DPL) seperti Dr. Ernawati, M.Si., Azzah Nilawati, MA, Ayatullah Kutub Hardew, M.Psi., Psikolog dan Mahasiswa Prodi Psikologi Islam Angkatan 2022/2023.
Ketua Jurusan Psikologi dan Psikoterapi FUD, Dr. Retno Pangestuti, M.Psi. Psikolog, saat memberikan sambutan mengucapkan terima kasih atas sambutan hangat dari perwakilan desa adat Penglipuran, Bali. Pada kunjungan kedua setelah tahun 2024 ini, Prodi Psikologi Islam ingin belajar lebih dalam tentang bagaimana warga di desa Panglipuran menjaga identitas budaya dan upaya menjaga well- being dan atau kesehatan mental yang selaras dengan perkembangan industri pariwisata Bali.
Tetua adat yang juga Ketua Pokdawis (Kelompok Sadar Wisata), Desa Adat Panglupuran, Bali Drs. Nengah Moneng menyambut baik kunjungan mahasiswa Prodi Psikologi Islam UIN Raden Mas Said Surakarta. Menurut Nengah Moneng, Panglipuran bukan hanya sebuah desa, tetapi sebuah desa adat yang secara khusus diakui dan diatur oleh pemerintah daerah Bali. Juga mendapatkan hak istimewa berupa otonom sendiri dalam menjaga eksistensi budaya yang ada di desa tersebut. Desa Panglipuran memiliki 2 orang pemimpin yaitu pemimpin adat (prajura adat) dan pemimpin pemerintahan. Dalam menjaga keharmonisan dan kesejahteraan masyarakat maka ditetapkan 3 hal dalam keharmonisan yang telah diatur oleh adat (awik-awik). Dikenal dengan istilah Tri Hita karana. Tri Hita Karana berasal dari tiga kata. Tri artinya Tiga, Hita artinya sejahtera, dan Karana artinya penyebab. Jadi, Tri Hita Karana berarti tiga penyebab kesejahteraan. Tiga penyebab kesejahteraan tersebut datang dari keharmonisan hubungan antara manusia dengan Tuhan, manusia dengan manusia, dan manusia dengan lingkungannya.Tri Hita Karana sebagai pedoman hidup masyarakat Bali, ini diterapkan secara terus menerus untuk menciptakan suasana harmonis dan mencapai kesejahteraan. Tri Hita Karana berperan penting dalam mencapai kebahagiaan, kesejahteraan, dan keharmonisan hidup. Dengan menekankan pada keseimbangan spiritual, sosial, dan lingkungan, ini membantu menciptakan kedamaian batin, interaksi sosial yang sehat, dan kelestarian alam. Penerapan Tri Hita Karana memungkinkan semua orang mencapai kesejahteraan secara menyeluruh, menciptakan kehidupan yang harmonis dan berkelanjutan. Maka, menurut beliau Pergeseran pola pikir Masyarakat yang menjadi sebuah daerah pariwisata harus tetap diimbangi dengan sebuah kesadaran sehingga tidak menimbulkan perselisihan antarwarga.
Setelah sesi pemaparan oleh perwakilan adat dilanjutkan sesi tanya jawab. Dosen dan mahasiswa antusias mengikuti sesi Tanya jawab. Acara dilanjutkan pemberian kenang-kenangan oleh UIN Raden Mas Said Surakarta kepada perwakilan Desa Panglipuran. Selanjutnya rombongan UIN Raden Mas Said Surakarta melakukan observasi langsung tentang keadaan desa Desa Panglipuran. Informasi update tentang Prodi Psikologi Islam dapat mengunjungi akun media instagram Prodi di pi.uinsurakarta. (Pupus Muhayatixi*)