12 September 2022

Dari Kelas ke Lapangan: Ruang Belajar Nyata Psikologi Sosial Mahasiswa Psikologi Islam di Bapas Surakarta

Di bawah terik matahari Kota Surakarta, lima mahasiswa Program Studi Psikologi Islam dari UIN Raden Mas Said Surakarta melangkah memasuki Balai Pemasyarakatan Kelas I Surakarta dengan satu tujuan: belajar langsung dari realitas. Khansa Farah Salsabila, Karlina Novita Sari, Wanda Berlinda, Prima Ayu Yashinta, dan Fahril Uli Annisa tidak sekadar menjalani kewajiban akademik Praktik Pengalaman Lapangan (PPL), tetapi juga memasuki ruang belajar nyata Psikologi Sosial yang sarat dinamika kemanusiaan. Selama lima minggu, sejak 7 Agustus hingga 8 September 2023, mereka mengikuti ritme kerja lembaga pemasyarakatan di bawah bimbingan Arief Eko Priyo Atmojo selaku dosen pembimbing lapangan. Dari apel pagi hingga pendampingan klien, setiap aktivitas menjadi bagian dari proses pembelajaran yang tidak mereka temukan di ruang kelas.

Menyelami Praktik Psikologi Sosial di Lapangan

Pengalaman paling intens mereka temukan dalam kegiatan Penelitian Kemasyarakatan (Litmas). Bersama Pembimbing Kemasyarakatan (PK), para mahasiswa mendampingi proses penggalian data melalui observasi dan wawancara mendalam, baik di Rutan Kelas I Surakarta, Rutan Kelas IIB Boyolali, maupun di lingkungan keluarga klien. Di sinilah Psikologi Sosial hadir secara nyata. Mahasiswa belajar memahami bagaimana perilaku individu dipengaruhi oleh lingkungan sosial, tekanan ekonomi, relasi keluarga, hingga norma yang berkembang di masyarakat. Setiap kisah klien membuka perspektif bahwa tindak pidana tidak lahir dari ruang hampa, melainkan dari interaksi kompleks berbagai faktor sosial. Melalui proses ini, mereka juga mengasah keterampilan dasar psikologi: membangun rapport, menggali informasi secara empatik, serta menjaga objektivitas dalam memahami kasus tanpa terjebak pada penilaian subjektif.

Dari Stigma ke Pemahaman

Magang ini menjadi titik balik cara pandang mahasiswa terhadap klien pemasyarakatan. Label “pelanggar hukum” yang sebelumnya terasa kaku, perlahan mencair menjadi pemahaman yang lebih manusiawi. Mereka menyaksikan langsung bagaimana stigma sosial dapat mempersempit ruang perubahan, sementara dukungan keluarga dan lingkungan justru menjadi faktor penting dalam proses rehabilitasi. Dalam berbagai interaksi, mahasiswa menemukan bahwa banyak klien memiliki keinginan kuat untuk memperbaiki diri, meskipun dihadapkan pada keterbatasan. Pengalaman menghadiri kegiatan pembinaan dan melihat karya warga binaan dalam expo di kawasan Mangkunegaran semakin menegaskan bahwa setiap individu memiliki potensi untuk berkembang. Perspektif ini memperkaya pemahaman mereka tentang konsep resiliensi dalam Psikologi Sosial.

Bekal Profesionalisme dan Empati

Bagi kelima mahasiswa tersebut, Bapas bukan sekadar tempat magang, melainkan ruang pembentukan profesionalisme. Mereka belajar bahwa menjadi praktisi psikologi tidak cukup hanya menguasai teori, tetapi juga membutuhkan kepekaan sosial, empati, dan integritas. Selain itu, mereka menyadari bahwa pendekatan Psikologi Islam memberikan dimensi tambahan dalam proses pendampingan—menghadirkan nilai-nilai kemanusiaan, spiritualitas, dan harapan sebagai bagian dari proses pemulihan klien. Meski menghadapi tantangan, seperti keterbatasan waktu dan banyaknya peserta magang dalam satu periode, pengalaman ini tetap memberikan kesan mendalam. Mereka tidak hanya membawa laporan akademik, tetapi juga membawa pemahaman baru tentang kompleksitas perilaku manusia dalam konteks sosial.

Menutup Perjalanan, Membuka Pemahaman Baru

Lima minggu di Balai Pemasyarakatan Kelas I Surakarta menjadi fase penting dalam perjalanan akademik sekaligus personal mereka. Dari kelas ke lapangan, mereka belajar bahwa Psikologi Sosial bukan sekadar konsep, melainkan alat untuk memahami, mendampingi, dan memanusiakan manusia. Pengalaman ini diharapkan menjadi fondasi kuat bagi mereka untuk terjun sebagai praktisi psikologi yang tidak hanya kompeten secara keilmuan, tetapi juga peka terhadap realitas sosial. Di balik jeruji, mereka menemukan pelajaran paling mendasar: bahwa setiap manusia selalu memiliki peluang untuk berubah—ketika dipahami, didampingi, dan diberi kesempatan. (Prima Ayu Yashinta, dkk)

 

Dari Kelas ke Lapangan: Ruang Belajar Nyata Psikologi Sosial Mahasiswa Psikologi Islam di Bapas Surakarta