Sukoharjo, Senin, 24 Februari 2025 — Himpunan Mahasiswa Psikologi Islam (HMPS PI) UIN Raden Mas Said Surakarta sukses menyelenggarakan Seminar Nasional dengan tema “The Importance of Self-Analysis: Anticipating Self-Diagnosis of Social Media Content”. Acara ini bertempat di Aula SBSN lantai 1 UIN Raden Mas Said Surakarta dengan dihadiri 100 peserta lebih, serta tamu undangan dari Universitas Setia Budi dan Universitas Muhammadiyah Surakarta, bersama dengan beberapa delegasi ormawa dan media partner.
Seminar Nasional menghadirkan Ummi Hany Eprilia, S.Psi, M.Pd (Konselor, Therapist dan dosen Universitas Muhammadiyah Surakarta) dan Vera Imanti, M.Psi., Psikolog (Direktur Biro Psikologi Terapan Psikoaktif, Praktisi Psikolog dan Dosen Psikologi Islam UIN Raden Mas Said Surakarta) sebagai Narasumber, dengan Adzillina Zam Zam Desertyarani (Demisioner Ketua HMPS PI 2024) sebagai moderator.
Acara dibuka oleh MC non-formal yang diawali dengan penampilan akustik dari dua mahasiswa/i Psikologi Islam. Selanjutnya, acara berlanjut ke sesi formal yang dipandu oleh MC formal dengan susunan acara dimulai dengan pembukaan, dilanjutkan dengan pembacaan ayat suci Al-Qur'an oleh saudari Fazila Hasna Atifa, menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Mars Psikologi Islam, serta sambutan-sambutan yang dimulai dari sambutan Ketua Panitia Seminar Nasional 2025, Irsyad Faizul Mufid, kemudian dilanjutkan oleh Ketua Umum HMPS Psikologi Islam, Yonanda Dimas Herdiyanto, sambutan dari Koordinator Program Studi Psikologi Islam, Triyono, M.Si, dan sambutan terakhir disampaikan oleh Wakil Dekan III Fakultas Ushuluddin dan Dakwah, Dr. Nur Sidik, S. Fil.I., M. Hum, yang sekaligus membuka acara Seminar Nasional 2025.
Yonanda Dimas Herdianto selaku Ketua Umum HMPS Psikologi Islam dalam sambutannya mengungkapkan bahwa tema seminar ini diharapkan dapat menjadi pemantik bagi para peserta untuk lebih kritis dalam menghadapi fenomena sosial media yang semakin berkembang. Menurutnya, sosial media hingga hari ini masih menjadi "pisau bermata dua" yang memiliki dampak positif maupun negatif. Sosial media memiliki potensi untuk menjadi alat yang sangat berguna dalam mempromosikan ilmu psikologi, namun tidak jarang juga disalahgunakan, baik untuk kepentingan politik, mencari uang, atau bahkan penipuan. Di akhir sambutannya, beliau mengingatkan para peserta untuk tidak terburu-buru dalam melakukan self-diagnosis atau merasa seperti seorang psikolog hanya berdasarkan informasi yang ditemukan di sosial media. Acara selanjutnya dipandu oleh Adzillina Zam Zam Desertyarani, dimulai dengan materi pertama yang disampaikan oleh Ibu Vera Imanti dan kemudian dilanjutkan dengan pemaparan materi dari Ibu Ummi Hany Eprilia.
Vera Imanti, M.Psi., Psikolog, dalam paparannya menyebutkan bahwa self-analysis adalah proses introspeksi diri untuk memahami pikiran, perasaan, dan perilaku, dengan tujuan untuk memperoleh wawasan pribadi yang mendukung pengembangan diri. Sementara itu, self-diagnose adalah upaya untuk mengidentifikasi masalah kesehatan tanpa adanya bantuan profesional, yang sering kali dilakukan berdasarkan informasi yang ditemukan di internet atau media sosial. Self-analysis mencakup aspek kognitif, emosional, dan perilaku. Jika dilakukan dengan baik, self-analysis dapat meningkatkan kesadaran diri, mengelola stres, dan memperbaiki keterampilan sosial. Namun, jika berlebihan, dapat menyebabkan kecemasan dan kesulitan dalam mengambil keputusan. Oleh karena itu, keseimbangan antara refleksi dan tindakan, serta mencari bantuan profesional jika diperlukan, sangat penting untuk efektivitas self-analysis. Self-analysis bukan tentang mencari kesalahan diri, tetapi tentang menemukan potensi yang lebih besar dalam diri kita, mengubah pemahaman menjadi tindakan, dan menjadikan setiap langkah sebagai kesempatan untuk tumbuh.
Dalam materi yang disampaikan oleh Ummi Hany Eprilia, S.Psi, M.Pd., Self-diagnosis dijelaskan sebagai tindakan mendiagnosis diri sendiri berdasarkan informasi dari internet, keluarga, atau teman tanpa adanya konsultasi pada profesional medis, hal ini dapat berisiko memperburuk kondisi kesehatan. Fenomena ini marak terjadi di kalangan Gen Z, kebanyakan dari mereka mencari informasi kesehatan melalui media sosial seperti YouTube, TikTok dan Instagram, yang sering kali memberikan informasi tidak akurat. Dampak negatifnya bisa berupa gangguan aktivitas sehari-hari, kecemasan berlebihan, dan penurunan energi. Disini, Ibu Ummi juga menekankan pentingnya berfikir kritis dan literasi digital, serta berkonsultasi dengan tenaga profesional untuk mendapatkan diagnosis yang akurat dan penanganan yang tepat.
Setelah penyampaian materi, acara berlanjut ke sesi tanya jawab antara pemateri dan peserta, dilanjutkan dengan pemberian kenang-kenangan kepada pemateri serta sesi foto bersama. Setelah sesi foto, acara ditutup secara resmi oleh master of ceremony. Informasi update tentang Prodi Psikologi Islam dapat mengunjungi akun media instagram Prodi di pi.uinsurakarta. #banggaAlumniFUD. (Farina K*)