06 January 2025

Itsar-nya Relawan Zakat;Tinjauan Altruisme dalam Perspektif Psikologi Islam

Oleh Julian Japung Saputra*

Lembaga Amil Zakat merupakan sebuah institusi yang dibentuk oleh masyarakat dan dilindungi oleh pemerintah dengan tugas untuk mengelola zakat, baik merencanakan, mengumpulkan, mendistribusikan dan mendayagunakan, sehingga dari zakat tersebut dapat disalurkan untuk berbagai macam kegiatan seperti dakwah, pendidikan, hingga sosial atau kemasyarakatan (Holil, 2019). Lembaga Amil Zakat atau LAZ dapat menjadi wadah untuk dapat menyalurkan zakat kepada yang berhak membutuhkan. Kebutuhan tersebut dapat berupa kebutuhan perorangan maupun kebutuhan kelompok dengan bentuk-bentuk yang berbeda-beda. Lembaga tersebut ada untuk membantu mencukupi kebutuhan masyarakat yang membutuhkan karena lembaga amil zakat mempunyai peran dalam menjaga stabilitas sosial masyarakat dan menyelesaikan permasalahan ekonomi sehingga memunculkan kesejahteraan dalam masyarakat (Fathaniyah & Makhrus, 2022). Lembaga zakat dapat menyalurkan zakat yang terkumpul tersebut sebagai bentuk bantuan kepada orang yang membutuhkan.

Zakat yang sudah terkumpul akan dimanfaatkan dan disalurkan melalui pihak yang bertugas dalam bidang tersebut. Salah satu pihak yang bertugas adalah relawan zakat. Relawan menurut Schroeder adalah seseorang yang bersedia memberikan tenaga, waktu, dan kesempatannya untuk membantu di sebuah organisasi pelayanan tanpa mengharapkan balasan materi (Ratih et al., 2020). Pengertian yang telah dikemukakan tersebut memberikan kesimpulan bahwa relawan zakat adalah seseorang yang berada di suatu organisasi pelayanan dengan tujuan membantu orang lain dengan cara memanfaatkan zakat kepada yang membutuhkan dengan tanpa mengharapkan balasan materi. Relawan zakat ada untuk memberikan kemudahan dalam menyalurkan zakat dari muzakki (yang memberikan zakat) kepada mustahik (yang menerima zakat). Salah satu lembaga Amil zakat yang mempunyai relawan untuk memanfaatkan zakat adalah Nurul Hayat.

Nurul Hayat merupakan lembaga Amil zakat yang mempunyai misi untuk menebar kemanfaatan dan pemberdayaan di bidang sosial, dakwah, kesehatan, pendidikan dan ekonomi. Lembaga atau institusi yang mengurusi pemanfaatan zakat ini dapat membantu dalam mengentaskan kemiskinan yang ada di dalam masyarakat dan dapat membersihkan harta dari para muzakki (Fathaniyah & Makhrus, 2022). Hal tersebut juga akan membantu pemerintah untuk dapat mewujudkan kesejahteraan dalam masyarakat sehingga terwujudnya hubungan secara habluminallah (hubungan dengan Allah) dan habluminannas (hubungan dengan manusia).

Relawan zakat memiliki sebuah karakteristik yang menonjol yaitu sikap untuk membantu orang lain yang membutuhkan atau dapat disebut dengan altruisme. Altruisme adalah sikap untuk membantu orang lain tanpa mengharapkan suatu imbalan (Rizky et al., 2021). Definisi lain adalah seseorang yang mempunyai perilaku altruism memiliki pengharapan, akan tetapi pengharapan tersebut lebih kepada perasaan sesudah melakukan perbuatan baik tersebut (Sukadiono et al., 2023). Altruisme memiliki beberapa ciri sebagaimana yang dikemukakan oleh Cohen (1995), ciri-ciri tersebut meliputi empati, rasa ingin menolong, dan sukarela (Rizky et al., 2021). Empati adalah sikap untuk dapat turut merasakan apa yang dialami oleh orang lain, lalu rasa ingin menolong adalah sikap untuk memberikan bantuan kepada orang lain baik berupa barang maupun jasa, dan terakhir sukarela merupakan sikap membantu tanpa mengharapkan sesuatu.

 

Itsar; altruisme dalam Psikologi Islam

altruisme dalam Islam disebut sebagai itsar. Itsar dapat diartikan sebagai perilaku untuk mengutamakan atau mendahulukan orang lain dari pada dirinya sendiri. Pendapat tersebut dikemukakan oleh salah satu ulama Islam, yaitu Ibnu Qoyyim al-Jauziyah (Putri et al., 2022). Pengertian lain juga memberikan penjelasan yang sama bahwa itsar adalah perilaku untuk lebih menganggap penting urusan orang lain dibanding dengan urusan diri sendiri (Putri et al., 2022). Sikap itsar pada dasarnya diikuti dengan keikhlasan oleh pelakunya. Seseorang yang melakukan si[kap tersebut rela untuk memberikan apa yang dimilikinya agar orang lain dapat merasakannya, meskipun terkadang yang memberikan tidak ikut merasakan (Helmy, 2020).  

Itsar adalah sifat terpuji dalam Islam, di mana pelakunya lebih mementingkan urusan orang lain dibandingkan dirinya sendiri. Menurut para ulama, sifat ini menjadi tingkatan ukhuwah dan muhabbah paling tinggi yang bisa dimiliki seseorang. Sikap itsar disebutkan di dalam Al-Qur’an dengan bunyi:  “...Dan mereka (Anshar) bersikap itsar (mengutamakan kaum Muhajirin) daripada diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam keadaan memerlukan (apa yang mereka berikan itu…” (QS. Al-Hasyr: 9).

Rasulullah SAW bersabda: “Tidak sempurna iman seseorang sehingga ia mencintai saudaranya seperti mencintai dirinya sendiri.” (HR. Bukhari). Imam Ali as berkata: “Al-Itsar (mengutamakan orang lain atas dirinya sendiri) adalah budi pekerti (al-makarim) yang paling tinggi.”

 

Aspek-asepk dalm Itsar

Aspek-aspek yang terdapat pada perilaku itsar yang dikemukakan oleh Ibnu Al-Qoyyim dibagi menjadi enam aspek. Aspek-aspek tersebut meliputi, 1) kesediaan berbagi (sharing), 2) kepedulian terhadap sesama (caring), 3) semangat dan kesediaan bekerja sama (cooperative), 4) kemauan menolong dengan segera (helping), 5) perilaku dermawan (donating & generosity), dan 6) kejujuran dalam tingkah laku dan ucapan (honesty) (Sholeh, 2011). Perilaku untuk membantu orang lain yang membutuhkan akan menghasilkan sikap-sikap yang sesuai dengan aspek dalam perilaku itsar tersebut. Relawan zakat sebagai pihak yang memberikan bantuan kepada orang lain yang membutuhkan juga dapat memiliki sikap-sikap tersebut.

Relawan zakat akan merasa tergerak dan terdorong untuk membantu orang lain yang membutuhkan. Relawan zakat akan membantu orang lain dengan sungguh-sungguh dan penuh keramahtamahan. Relawan zakat dalam membantu orang lain mengharapkan keikhlasan atau mengharapkan balasan pahala dari Allah, selain itu mereka juga membantu orang lain dengan harapan suatu saat akan mendapatkan pertolongan. Relawan zakat akan mendahulukan orang lain yang membutuhkan. Relawan zakat bersedia memberikan apapun yang dimiliki untuk membantu orang lain. Relawan zakat lebih menyukai membantu orang lain secara bersama-sama.

Relawan zakat dalam menjalankan perannya bersedia untuk memberikan apapun yang dimilikinya, baik itu berupa waktu, tenaga, support atau dukungan dan lain sebagainya. Orang yang mempunyai sikap untuk membantu orang lain akan memberikan sebagian apa yang dimiliki karena itu merupakan titipan dan hak orang yang membutuhkan (Laila & Asmarany, 2015). Relawan zakat dalam memberikan bantuan ikhlas untuk meluangkan waktu, tenaga dan lain sebagainya tanpa mengharapkan keuntungan finansial (Hidayatullah & Lukmawati, 2021). Inti dari penelitian tersebut menyampaikan bahwa relawan zakat melakukan pekerjannya murni ingin membantu orang lain. Bantuan yang diberikan oleh para relawan zakat pun dapat berupa apa saja. Dengan berbagi sumber daya, cinta, energi, pikiran, dan waktu mereka dengan orang lain, relawan menganggap diri mereka sebagai agen kebaikan dan kegunaan bagi masyarakat luas (Irawati, 2023).

Selanjutnya, relawan zakat menganggap bahwa kepedulian antar sesama merupakan hal yang penting, Para relawan percaya bahwa kepedulian dapat membentuk hubungan di dalam masyarakat. Kepedulian juga dapat membuat kehidupan jadi lebih mudah. Relawan menganggap kepedulian dapat mendatangkan timbal baik suatu saat nanti. Kepedulian antar sesama dapat memberikan dampak kepada orang banyak, yaitu dapat menciptakan kesadaran dan tanggung jawab sehingga mampu menciptakan hubungan yang baik di dalam masyarakat (Naufal, 2020). Selain itu, relawan mempunyai kemampuan untuk peka terhadap lingkungan fisik dan ketika dihadapkan dengan orang lain yang membutuhkan bantuan maka kepekaan untuk peduli akan meningkat (Prihantoro, 2021). Kepedulian terhadap sesama dapat muncul sebagai bentuk rasa syukur atas nikmat yang telah diterima sehingga apa yang didapatkan dapat dirasakan oleh orang lain juga (Rumtianing, 2021).

Pada aspek ketiga, yaitu semangat dan kesediaan untuk bekerja sama (cooperative). Relawan bersepakat untuk melakukan kerja sama tim ketika membantu orang lain. Kerja sama dapat menyempurnakan atau menutupi kekurangan satu sama lain. Kegiatan untuk membantu orang lain lebih baik dilakukan secara bersama-sama karena dapat memudahkan dalam menyukseskan kegiatan. Kerja sama juga dibutuhkan agar kegiatan dapat berjalan secara terus-menerus. Kerja sama dapat memudahkan relawan dalam menjalankan tugasnya (Apriliani, 2021). Selain itu, kerja sama dapat terjadi karena adanya pola aktivitas dan implementasi pekerjaan yang dilakukan secara bertanggung jawab (Adha, 2018). Kesediaan bekerja sama antar relawan zakat dapat dipupuk dengan memiliki kematangan emosi yang baik. Kematangan emosi tersebut meliputi kemampuan mengontrol emosi, memiliki rasa empati serta mampu mengontrol diri sendiri. Kematangan emosi ini dibutuhkan karena setiap organisasi relawan mempunyai massa atau anggota yang banyak (Istiono & Efendy, 2021).

Pada aspek kemauan untuk menolong dengan segera atau helping dijelaskan bahwa relawan zakat terbiasa untuk membantu orang lain. Dalam membantu orang lain diperlukan cara-cara dalam menemukan orang yang sesuai untuk dibantu. Cara-cara tersebut meliputi survei, menerima usulan atau rekomendasi dari orang lain dan menawarkan bantuan kepada yang membutuhkan. Hal yang serupa juga menunjukkan bahwa ketika terdapat orang yang membutuhkan meskipun belum kenal sebelumnya dalam diri relawan tetap akan muncul keinginan untuk segera membantu (Laila & Asmarany, 2015).  Sikap untuk membantu termasuk perbuatan wajib yang ada di agama Islam sehingga dengan adanya faktor keagamaan tersebut mereka terdorong dalam membantu orang lain (Tolah, 2021).

Mengenai aspek kedermawanan, relawan zakat akan mendapatkan kesenangan ketika membantu orang lain meskipun hanya menjadi perantara meskipun harus mengenyampingkan kebutuhan pribadi karena sikap tersebut dapat bermanfaat bagi orang lain. Bantuan yang diberikan oleh relawan akan memunculkan rasa senang yang membuat relawan merasa puas sehingga akan memunculkan dampak positif bagi relawan tersebut (Karinda & Arianti, 2020). Perasaan yang didapatkan oleh relawan tersebut dapat menjadi sebab untuk selalu membantu orang lain. Adapun faktor yang menyebabkan seseorang membantu orang lain seperti sikap distress dan rasa empati (Istiqomawati et al., 2023). Relawan melakukan tugasnya dengan Ikhlas. Relawan zakat pada dasarnya memiliki sikap dermawan dengan tidak mengharapkan imbalan dari setiap hal yang dikerjakan Ayzahroh & Azisi (2023).

Aspek yang terakhir adalah kejujuran (honesty), menurut para relawan, kejujuran adalah kunci untuk dapat menyukseskan kegiatan. Kejujuran dapat menjadi perekat hubungan antara antar rekan tim dan orang yang diberikan bantuan. Kejujuran adalah sikap yang harus ada dalam diri setiap relawan zakat. Selain itu, kejujuran adalah sikap yang harus ada di setiap aspek kehidupan manusia. Kejujuran diperlukan untuk menjaga hubungan sosial (Chairilsyah, 2016) Kejujuran juga dapat menjadi citra diri dari relawan, bahkan kejujuran merupakan salah satu aspek yang mempunyai rata-rata prososial paling tinggi (Ulfah & Hazim, 2023).

Relawan zakat pada dasarnya memiliki perbedaan dari setiap aspek atau sikap yang lebih menonjol. Berdasarkan uraian tersebut menghasilkan dua aspek yang membangun sikap itsar selain enam aspek yang telah disebutkan di atas, yaitu sikap ikhlas dan raja’ atau pengharapan kepada Allah SWT. Sikap-sikap tersebut saling berkaitan satu sama lain sehingga didapatkan bahwa aspek-aspek yang membentuk sikap itsar meliputi sharing, caring, cooperative, helping, donating & generosity, honesty, ikhlas dan raja’.

 

*Mahasiswa Psikologi Islam Angkatan 2020

Itsar-nya Relawan Zakat;Tinjauan Altruisme dalam Perspektif Psikologi Islam