15 December 2024

Koneksi atau Kesenjangan? Eksplorasi Hubungan Interpersonal di Era Digital

Istiana Azifah*

Di era digitalisasi ini, interaksi sosial telah mengalami transformasi yang signifikan. Teknologi informasi dan komunikasi telah mengubah cara kita berinteraksi, baik dalam konteks pribadi maupun profesional. Meskipun kemajuan teknologi memberikan kemudahan dalam berkomunikasi, tetapi juga membawa sejumlah tantangan yang berpengaruh dalam membangun dan menjaga hubungan interpersonal. Dalam konteks psikologi, penting bagi kita memahami dinamika permasalahan ini, guna mengembangkan hubungan interpersonal yang sehat untuk kesejahteraan individu dan Masyarakat. Teknologi yang berkembang pesat memberikan kemudahan dalam berkomunikasi, tetapi juga menciptakan jarak emosional yang tidak terlihat. Oleh karena itu, esai ini membahas bagaimana hubungan interpersonal dapat dibangun secara harmonis dalam kehidupan sehari-hari di tengah era digital melalui sudut pandang psikologi.

Era digital telah mengubah cara kita berinteraksi dengan orang lain. Komunikasi yang dulunya bersifat langsung dan tatap muka kini sering digantikan oleh interaksi melalui platform digital. Tidak hanya menjadi alat komunikasi, melainkan telah menjadi perantara utama dalam membentuk dan memelihara hubungan interpersonal. Dengan adanya media sosial, aplikasi pesan singkat, dan platform komunikasi lainnya memungkinkan kita untuk terhubung dengan orang-orang di seluruh dunia. Namun, hal ini berpengaruh besar terhadap dinamika hubungan interpersonal, pola komunikasi, dan budaya komunikatif secara keseluruhan. Dalam kehidupan sehari-hari, hubungan interpersonal seringkali dipengaruhi oleh pola komunikasi digital yang cenderung dangkal dan kurang bermakna. 

Hubungan interpersonal adalah elemen yang penting dalam kehidupan manusia yang membantu menciptakan keseimbangan emosional, sosial, dan psikologis. Sebagai makhluk sosial, manusia memiliki kebutuhan dasar untuk merasa diterima, dihargai, dan memiliki keterikatan dengan orang lain. Dalam kehidupan sehari-hari, hubungan ini terjalin dalam berbagai bentuk, seperti hubungan keluarga, persahabatan, hubungan romantis, hingga hubungan profesional. Hubungan yang harmonis dapat meningkatkan kesejahteraan emosional, memberikan dukungan sosial, dan membantu individu menghadapi tekanan hidup. Dalam konteks psikologi, fenomena ini dapat dijelaskan melalui teori keterikatan. Keterikatan yang kuat antara individu biasanya dibangun melalui interaksi langsung yang melibatkan kehadiran fisik dan komunikasi emosional. Ketika interaksi sosial sering bergeser ke ranah virtual melalui media sosial ataupun platform digital lainnya seperti facebook, Instagram, dan twitter. Hal ini dapat memungkinkan individu tetap terhubung secara instan tanpa batas ruang dan waktu dengan siapa saja, dimana saja, dan kapan saja. 

Namun, ia juga dapat mengurangi kualitas hubungan jika tidak digunakan secara bijak. Sebagai contoh, komunikasi melalui teks, emoji atau GIF sebagai pengganti ekspresi wajah sering kali tidak mampu menangkap nuansa emosi yang kompleks, sehingga berpotensi menimbulkan kesalahpahaman. Menurut penelitian, interaksi yang dilakukan secara online dapat mengurangi kedalaman hubungan, karena kurang nya komunikasi non-verbal dan empati yang biasa hadir dalam interaksi tatap muka. Pentingnya menekankan interaksi tatap muka dalam komunikasi non-verbal, seperti ekspresi wajah, nada suara, dan Bahasa tubuh dalam memahami emosi dan penyampaian makna orang lain. Ketika komunikasi bergantung pada media digital, isyarat ini sering sekali hilang atau terdistorsi sehingga dapat melemahkan kedalaman hubungan. Selain itu, penggunaan teknologi secara berlebihan dapat menciptakan ilusi hubungan yang erat melalui “like” atau “komentar”, padahal interaksi tersebut mungkin tidak mencerminkan hubungan yang mendalam. Seseorang mungkin memiliki ribuan “teman”, tetapi tidak memiliki hubungan yang benar-benar mendalam.

Fenomena ini dikenal dengan paradoks kesepian digital, dimana individu merasa kesepian meskipun terlihat selalu terhubung. Banyak individu yang merasa kesepian meskipun terhubung secara virtual, karena komunikasi digital tidak selalu dapat menggantikan kedekatan emosional yang dibangun melalui interaksi langsung. Dalam era ini, individu sering terbebani oleh ekspektasi untuk selalu tersedia dan responsif. Hal ini dapat menyebabkan stres dan kecemasan yang dapat mempengaruhi kualitas hubungan interpersonal. Ketergantungan yang berlebihan pada teknologi dapat mengurangi kemampuan individu untuk membangun hubungan interpersonal secara langsung. Hal ini menunjukkan bahwa interaksi yang otentik dan mendalam seringkali memerlukan kehadiran fisik. Oleh karena itu, penting untuk menyadari keterbatasan yang ada dan berusaha dalam meningkatkan kejelasan dalam komunikasi secara daring. 

Meskipun era digital membawa tantangan, hubungan interpersonal tetap dapat dibangun dengan beberapa strategi yang tepat. Dalam psikologi, komunikasi adalah pondasi utama dalam membangun hubungan interpersonal yang harmonis. Di era ini, penting untuk tetap menjaga komunikasi yang jelas dan terbuka. Menggunakan Bahasa yang tepat, mendengar dengan aktif, dan memberikan umpan balik yang konstruktif adalah kunci untuk menghindar dari kesalahpahaman. Selain itu, penting untuk menyadari bahwa komunikasi non-verbal, seperti ekspresi wajah dan nada suara, tidak selalu dapat diartikan secara efektif melalui pesan teks. Maka sesekali melakukan video call atau bertemu secara langsung untuk meluangkan waktu bersama keluarga, teman, atau pasangan, karena ini memungkinkan dapat menciptakan hubungan yang mendalam dan berarti.

Dalam konteks hubungan interpersonal, empati sangat penting untuk menciptakan ikatan yang kuat. Di era ini sulit bagi kita yang seringkali terjebak dalam komunikasi yang cepat dan dangkal, sehingga sulit untuk menunjukkan empati. Maka cobalah mengambil waktu untuk memahami bagaimana perspektif orang lain, baik melalui pesan maupun interaksi langsung, menunjukkan perhatian terhadap perasaan dan pengalaman orang lain hingga dapat menciptakan rasa saling percaya dan adanya dukungan. Respon yang penuh empati dapat meningkatkan kedekatan emosional dan mencegah konflik. Konflik adalah bagian dari setiap hubungan interpersonal. Namun, cara kita menangani konflik sangat menentukan kualitas hubungan tersebut. Jika konflik muncul usahakan selesaikannya secara langsung, sehingga komunikasi lebih jelas dan emosi dapat tersampaikan secara tepat. 

Meskipun teknologi memungkinkan kita untuk terhubung kapan saja dan dimana saja, kualitas waktu yang dihabiskan tetap penting. Mengatur waktu untuk bertemu secara langsung, melakukan aktivitas bersama, atau bahkan sekedar berbincang santai dapat memperkuat interpersonal. Bahkan dalam konteks psikologi, pengalaman bersama dapat menciptakan kenangan yang memperkuat hubungan dan meningkatkan rasa ketertarikan. Penting juga untuk menetapkan Batasan dalam berinteraksi dengan orang lain. Terlalu banyak terlibat dalam komunikasi digital dapat menyebabkan kelelahan emosional dan mengurangi kualitas interaksi. Menetapkan waktu untuk beristirahat dari media sosial atau komunikasi digital dapat membantu setiap individu untuk lebih fokus pada hubungan yang ada. Batasan ini juga menyangkut menghormati privasi dan ruang pribadi orang lain, yang merupakan aspek penting dalam membangun kepercayaan.

Di era ini kita perlu menambah wawasan tentang bagaimana individu dapat menyesuaikan diri dengan perubahan pada pola interaksi ini. Teori seperti sosial exchange theory dapat membantu memahami bagaimana individu mengevaluasikan manfaat serta timbal balik dari setiap hubungan. Manfaat dalam era ini, seperti kemudahan komunikasi dan aksesibilitas harus diimbangi dengan timbal balik yang berpotensi untuk mengurangi resiko kesalahpahaman. Selain itu, konsep konformitas sosial dapat membantu menjelaskan bagaimana tekanan sosial dalam era ini dapat mempengaruhi hubungan interpersonal. Misalnya, kecenderungan untuk menyesuaikan diri dengan tren-tren yang ada pada media sosial dapat mempengaruhi cara individu mengekspresikan diri serta membangun hubungan.

Membangun hubungan interpersonal yang harmonis di era digital memiliki dampak positif terhadap kesejahteraan setiap individu. Dengan memahami dinamika perubahan pada era ini serta menerapkan strategi-strategi yang tepat dapat menciptakan hubungan yang sehat dan berarti. Pada akhirnya, hubungan interpersonal yang harmonis tidak hanya memperkaya kehidupan individu tetapi juga mendukung dinamika sosial yang sehat di era ini, hingga hubungan yang sehat dapat meningkatkan kebahagian, mengurangi stres, dan meningkatkan kesehatan mental.

 

*Mahasiswa Psikologi Islam Angkatan 2023/2024

 

Koneksi atau Kesenjangan? Eksplorasi Hubungan Interpersonal di Era Digital