07 January 2025

Mengubah Konflik Menjadi Kolaborasi: Peran Penting Kontrol Diri di Era Fanwar K-Pop

Oleh : Dea Widyasari*

Internet saat ini merupakan sesuatu yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan masyarakat. Adanya teknologi yang sangat maju dapat memudahkan akses informasi baik dari dalam negeri maupun luar negeri. Tidak hanya informasi yang dapat dibagikan melalui teknologi, budaya juga dapat dengan mudah menyebar ke seluruh dunia. Salah satunya adalah budaya Korea atau yang biasa disebut dengan Hallyu/Korean Wave. Dengan adanya perkembangan teknologi yang pesat, maka semakin banyaknya media sosial yang bermunculan. Media sosial sendiri mempermudah untuk mengakses informasi dan bertukar pikiran. K-pop berkembang sangat pesat di Indonesia, sehingga banyaknya masyarakat yang tertarik dan menyukai k-pop dan mencari tahu idolanya melalui media sosial. Penyebaran k-pop berlangsung hingga saat ini, melalui media yang makin update memberikan informasi yang bisa ditemukan dimana saja seperti X, facebook, instagram, youtube, dan sejenisnya.

Perkembangan Hallyu/Korean Wave di setiap negara termasuk Indonesia tidak lepas dari perkembangan musiknya yang dikenal Korean Pop atau k-pop. Istilah k-pop digunakan secara luas untuk menjelaskan aliran-aliran musik gabungan dari genre musik yang ada (Eliani dkk, 2018). K-pop yaitu identik dengan sekelompok perempuan dan laki-laki atau yang biasa dikenal boyband atau girlband, yang ada sekarang ini contohnya adalah EXO, Seventeen, Blackpink, dan lain sebagainya. Dilansir dari Korea Foundation, karena adanya Hallyu/Korean Wave yang mendunia inilah berdampak pada kehidupan masyarakat di dunia, mulai dari bahasa, gaya berpakaian, gaya hidup yang trendi, musik k-pop yang kreatif, dan lain-lain. Perkembangan Korean Wave saat ini sangat menarik perhatian bagi masyarakat sehingga usia penggemar k-pop pun beragam baik anak-anak hingga orang dewasa menyukainya. Dilansir oleh GoodStats, Indonesia menjadi negara dengan jumlah penggemar k-pop terbanyak di dunia pada tahun 2021. Indonesia juga sudah dua kali menjadi negara yang paling banyak membahas mengenai k-pop di media sosial X dan juga menduduki peringkat ketiga pasar utama untuk streaming grup idola Korea. Mayoritas target penikmatnya berusia antara 20-49 tahun.

Fandom: Komunitas Penggemar K-Pop

Berjalannya dengan budaya k-pop yang merambah internasional, muncullah adanya komunitas penggemar k-pop yang dikenal sebagai fandom (Eliani dkk, 2018). Setiap grup boyband atau girlband mempunyai nama fandomnya masing-masing. Rinata (2019) menjelaskan, fandom berasal dari dua kata, yaitu fans dan kingdom yang merupakan kumpulan penggemar yang menyukai suatu grup/idola yang sama. Fandom di zaman ini sudah terfasilitasi dengan majunya teknologi yang membuat fandom bisa melakukan aktivitas sebagai penggemar diberbagai media sosial. Salah satu yang paling populer adalah twitter atau X. Twitter adalah situs mikroblog berlambang burung berwarna biru yang sudah berganti nama menjadi X yang digunakan oleh penggunanya untuk menuliskan kegiatannya, pengguna X bebas mengungkapkan atau membagikan apa saja (Yunita, 2019).

Seperti halnya penggemar k-pop, mereka sering menghabiskan waktu di sana untuk mencari tahu informasi apa yang sedang trending tentang idolanya. Banyaknya perkumpulan fandom tersebut semakin mempermudah fans untuk lebih mengetahui informasi tentang idolanya. Media sosial X mempermudah perkumpulan fandom karena menjadi tempat yang memungkinkan para penggemar berinteraksi tanpa dibatasi oleh wilayah. Penggemar k-pop biasanya memiliki forum-forum yang dibuat sendiri untuk melakukan kegiatan fandom atau bertukar informasi tentang idola mereka (Yumna dkk., 2020). Di media sosial X, banyak terdapat akun resmi dari grup idola mereka yang memberitahu para penggemar tentang aktivitas apa yang sedang dilakukan oleh grup tersebut, projek apa yang akan dibuat, jadwal konser bahkan jadwal keberangkatan ke luar negeri dari boyband atau girlband tersebut.

Fanwar; Bentujk Perilaku Agresif

Pada media sosial X, seringkali fans bertengkar satu sama lain dikarenakan adanya perbedaan pendapat atau terkadang fans merasa salah satu idolanya diperlakukan tidak adil oleh agensinya, dan bahkan fandom satu seperti menyenggol fandom yang lain sehingga menyebabkan pertengkaran antar fandom. Febriany (2022) mengungkapkan bahwa penggemar k-pop di media sosial seringkali memunculkan perilaku agresif dikarenakan dari perilaku fanatisme. Agresi yang biasa ditunjukkan oleh penggemar k-pop yaitu agresi verbal dan biasa terjadi ketika fanwar. Pada penelitian Febriany (2022), juga dikatakan bahwa agresi verbal yang dilakukan penggemar k-pop tak hanya saling melemparkan kritikan jahat dengan penggemar lain di media sosial. Tetapi perilaku agresif verbal lainnya yaitu terkadang menyerang artis-artis lain yang menyinggung penggemar. Penggemar yang usianya masih belasan tahun hingga yang sudah dewasa banyak yang ikut meramaikan fanwar tersebut. Terkadang penggemar lain suka menggiring opini sehingga fanwar semakin menjadi-jadi dan para penggemar pun sudah tidak bisa mengontrol dirinya.

Rendahnya Kontrol Diri Bermedia menjadi penyebab Fanwar

Fanwar salah satunya disebabkan kurangnya kontrol diri dari penggemar k-pop. Kontrol diri punya dampak besar pada individu dalam memutuskan suatu tindakan yang diambilnya. Kemampuan kontrol diri berkembang seiring bertambahnya usia. Sejalan dengan bertambahnya usia, diharapkan keahlian mengontrol diri seseorang semakin baik, hal ini dikarenakan usia seseorang berbanding lurus dengan perkembangan kontrol diri (Marpaung, 2016). Bila seseorang mempunyai kontrol diri yang baik, maka ia dapat mengendalikan keputusan atas tindakannya, apabila ia mempunyai kontrol diri yang buruk, maka ia tidak dapat mengendalikan perilakunya atau melakukan tingkah laku impulsif. Roem dkk (2022) menyatakan kontrol diri (self-control) adalah sebuah kemampuan untuk mengendalikan perilaku atau tingkah laku individu dalam kehidupan sehari-hari. Menurut Tangney, Baumeister & Boone (2004), kontrol diri merupakan kemampuan individu untuk menentukan perilakunya berdasarkan standar tertentu seperti moral, nilai dan aturan di masyarakat agar mencapai perilaku positif. Kemampuan dalam mengontrol diri akan memberikan dampak pada individu dalam bertingkah laku karena kemampuan kontrol diri individu yang akan menentukan perilaku yang ditimbulkan. Berkaitan dengan hal tersebut, bahwa masih banyaknya penggemar k-pop yang kurang mampu dalam mengontrol diri yang menyebabkan timbulnya agresi verbal yang mengakibatkan fanwar di media sosial akibat terlalu banyak memporsirkan dirinya ke dalam dunia k-pop.

Averill (1973), membagi tiga aspek kontrol diri, yaitu kontrol perilaku, kontrol kognitif, dan kontrol keputusan. Kontrol perilaku adalah kemampuan individu untuk memodifikasi suatu keadaan yang tidak diinginkan. Kontrol kognitif adalah kemampuan individu untuk mengolah informasi yang tak terduga dengan cara menginterpretasi, menilai, dan menghubungkan peristiwa guna mengurangi tekanan. Kontrol keputusan adalah kemampuan individu dalam memilih hasil atau tindakan yang berdasarkan pada sesuatu yang diyakini. Faktor yang memengaruhi kontrol diri yaitu faktor internal seperti usia, dan faktor eksternal seperti lingkungan. Kontrol perilaku dari kontrol diri yang seharusnya dilakukan oleh penggemar k-pop dalam menghadapi aksi fanwar adalah dengan mengurangi intensitas dalam bermedia sosial agar tidak terpancing untuk ikut dalam aksi fanwar tersebut. Roem (2022) mengatakan, penggemar k-pop memiliki kontrol perilaku yang bagus jika sudah memiliki kemampuan dalam memodifikasi stimulus.

Pada aspek kontrol kognitif, yang harus dilakukan penggemar k-pop adalah dengan pandai memilah informasi yang didapat dari media sosial, dan sebisa mungkin untuk menghindari platform berita yang terkadang sering menyebarkan berita hoax. Biasanya penggemar k-pop banyak mengikuti akun-akun atau portal berita yang dipercayainya. Pada penelitian Etikasari (2018) dikatakan, bahwa penggemar k-pop memiliki sumber informasi spesifik yang dapat mereka percayai. Penggemar k-pop juga harus memiliki kontrol kognitif yang baik dalam menghadapi skandal atau rumor dengan bijak dan tidak mudah terbawa suasana. Terakhir, kontrol keputusan yang harus dilakukan oleh penggemar k-pop adalah menghadapi aksi fanwar dengan tenang terlebih dahulu agar tidak mudah tersulut emosi dan tidak ingin mengikuti aksi fanwar tersebut. Sikap yang tenang membuat individu menjadi ingin menahan perilakunya untuk ikut terlibat dalam aksi fanwar. Dengan sikap yang tenang juga, penggemar k-pop bisa melihat suasana dan membaca terlebih dahulu permasalahan yang dibahas dalam fanwar tersebut untuk mendapatkan informasi yang akurat dan mendapatkan sudut pandang dari orang lain. Gumelar (2021) mengatakan, penggemar k-pop mampu dalam memilih perilaku yang akan dilakukannya yang akan memberikan dampak positif.

Pentingnya Kontrol Diri dalam Bermedia

Kontrol diri sangat dibutuhkan dalam diri seseorang, karena dengan memiliki kontrol diri yang baik maka seseorang akan mampu menahan dan mengendalikan emosi, keinginan, dan perbuatan mereka. Pada konteks fanwar, kontrol diri meliputi keahlian para penggemar untuk menahan dirinya dari perilaku agresif, menghormati sudut pandang yang berbeda, dan tetap tenang ketika situasi sedang menegang. Kontrol diri semata-mata tidak hanya untuk kebaikan diri sendiri. Kontrol diri juga bisa memengaruhi kehidupan sekitar kita. Jika penggemar mampu dalam mengontrol dirinya di media sosial, itu akan menciptakan keharmonisan antar sesama penggemar k-pop. Mengendalikan perilaku saat fanwar terjadi akan mencegah konflik menjadi lebih besar, dan penggemar bisa mengalihkannya dengan kegiatan yang positif, seperti lebih mendukung idolanya melalui streaming, voting, atau kampanye positif. Adanya kontrol diri yang baik, juga menciptakan hubungan yang positif dengan sesama penggemar. Dengan tidak ikut terlibat dalam konflik, kedewasaan yang ditunjukkan penggemar akan menarik simpati dari fandom lain, dan kontrol diri juga bisa membantu menjaga citra suatu fandom sebagai komunitas yang damai dan suportif.

Manfaat dari kontrol diri juga bisa meningkatkan kesejahteraan mental seseorang. Seperti mengurangi stress, dikarenakan ikut terlibat dalam aksi fanwar dapat menyebabkan stress emosional. Kontrol diri juga dapat meningkatkan ketenangan pada batin seseorang. Menghindari konflik memungkinkan penggemar bisa fokus pada hal-hal yang akan membawa kebahagiaan, seperti selalu menikmati karya idola tanpa adanya gangguan. Karena kebanyakan aksi fanwar yang terjadi disebabkan oleh lingkungan luar yaitu adanya interaksi dari penggemar-penggemar lain yang ikut terprovokasi. VanDellen (2008) mengatakan, bahwa faktor sosial dan lingkungan bisa mempengaruhi kontrol diri seseorang. Karena penggemar k-pop banyak berinteraksi dengan penggemar lainnya di media sosial, dan banyaknya gangguan atau godaan seperti aksi fanwar dan komentar-komentar yang sengaja ada untuk memprovokasi penggemar lain.

Dengan demikian kontrol diri merupakan keterampilan yang penting untuk menghadapi tantangan di kehidupan modern. Penggemar k-pop saat fanwar memiliki kemampuan penting untuk mengontrol diri, yang dapat mencegah konflik semakin memanas, menjaga reputasi fandom, dan melindungi kesehatan mental individu. Dengan mengendalikan emosi mereka, berpikir secara rasional, dan menghindari provokasi, penggemar dapat fokus pada hal-hal yang lebih produktif dan dapat mendukung idola mereka secara positif. Selain itu, kontrol diri membantu menciptakan lingkungan fandom yang lebih damai dan menghindari citra negatif dari komunitas.

*Mahasiswa Prodi Psikologi Islam Angkatan 2019

Mengubah Konflik Menjadi Kolaborasi: Peran Penting Kontrol Diri di Era Fanwar K-Pop