Dalam upaya mendorong budaya literasi kritis di kalangan generasi muda, Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Mas Said sukses menyelenggarakan kompetisi penulisan esai tingkat nasional yang diikuti oleh ratusan peserta dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia. Kompetisi ini mengangkat tema besar seputar dinamika generasi muda, tantangan sosial, serta nilai-nilai keagamaan dalam menghadapi perubahan zaman. Di tengah persaingan yang ketat, seorang mahasiswa psikologi, Auriza Sativa Devi, berhasil menorehkan prestasi gemilang dengan meraih Juara 1 (1st Winner in Writing Competition) melalui esai berjudul “Does the ‘Strawberry Generation’ Have a Religiosity that Impact on Social Resilience?”.
Esai tersebut mengangkat fenomena “strawberry generation”, sebuah istilah yang kerap digunakan untuk menggambarkan generasi muda yang dinilai rapuh, mudah tertekan, namun sebenarnya memiliki potensi besar jika diarahkan dengan tepat. Dalam tulisannya, penulis tidak hanya mengkritisi label tersebut, tetapi juga menawarkan sudut pandang baru dengan mengaitkannya pada aspek religiusitas sebagai faktor penting dalam membangun ketahanan sosial (social resilience). Melalui pendekatan psikologis dan sosial, esai ini menggambarkan bagaimana nilai-nilai keagamaan dapat menjadi sumber kekuatan internal yang membantu individu menghadapi tekanan hidup, perubahan sosial, serta tantangan global yang semakin kompleks.
Lebih jauh, esai ini menyoroti bahwa religiusitas bukan sekadar praktik ritual, melainkan mencakup dimensi makna hidup, kontrol diri, empati sosial, dan kemampuan adaptasi. Penulis berargumen bahwa ketika religiusitas dipahami secara mendalam dan kontekstual, generasi yang kerap dianggap “lemah” justru memiliki peluang besar untuk menjadi individu yang resilien dan berdaya. Analisis yang disajikan tidak hanya berbasis teori psikologi modern, tetapi juga diperkaya dengan refleksi sosial yang relevan dengan kondisi generasi muda saat ini, menjadikan esai ini unggul baik dari segi kedalaman maupun orisinalitas gagasan.
Dewan juri mengapresiasi esai tersebut karena keberhasilannya mengintegrasikan isu kontemporer dengan pendekatan ilmiah yang sistematis dan argumentatif. Selain itu, gaya penulisan yang komunikatif namun tetap akademis membuat pesan yang disampaikan dapat menjangkau pembaca dari berbagai latar belakang. Kemenangan ini menjadi bukti bahwa mahasiswa tidak hanya mampu memahami fenomena sosial secara kritis, tetapi juga mampu menawarkan solusi berbasis nilai dan ilmu pengetahuan.
Prestasi ini diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi mahasiswa lainnya untuk terus mengembangkan kemampuan berpikir kritis, menulis, dan berkontribusi dalam diskursus ilmiah yang berdampak luas bagi masyarakat. Kompetisi ini juga menegaskan pentingnya peran institusi pendidikan dalam menciptakan ruang dialog yang konstruktif antara ilmu pengetahuan, nilai-nilai keagamaan, dan realitas sosial yang terus berkembang. Dengan semangat ini, generasi muda diharapkan tidak lagi dilihat sebagai “strawberry generation” yang rapuh, melainkan sebagai generasi reflektif yang mampu bangkit, beradaptasi, dan memberikan kontribusi nyata bagi ketahanan sosial bangsa.