Oleh: Husnul Hidayati*
Saat ini, internet menjadi kebutuhan penting bagi keseharian manusia. Survei dari Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJI) menyebutkan bahwa di Indonesia, data pengguna internet tahun 2023 berjumlah 215.626.156 pengguna atau sekitar 78,19% dari total penduduk Indonesia yang berjumlah 275.773.901. Menurut Data Reportal pada Januari 2023, data pengguna aktif media sosial Indonesia berjumlah 167 juta pengguna atau 60,4% dari total penduduk Indonesia (Kemp, 2023). Data-data tersebut menunjukkan bahwa mayoritas penduduk Indonesia telah familiar dengan internet serta mayoritas dari pengguna internet merupakan pengguna media sosial.
Penggunaan internet mempermudah individu untuk mendapatkan informasi dan saling berinteraksi dari mana saja dan kapan saja. Individu dapat saling berinteraksi melalui media sosial. Instagram merupakan salah satu media sosial yang sering digunakan banyak orang. Data Reportal (2023) menyebutkan bahwa Instagram merupakan platfrom media sosial terbesar ke empat di dunia dengan dua miliar pengguna aktif setelah Facebook, YouTube, dan WhatsApp. Indonesia sendiri menempati urutan ke empat pengguna Instagram di dunia dengan jumlah pengguna 97,6 juta jiwa, di mana mayoritas usia penggunanya adalah 18-24 tahun.
Instagram dapat menjadi tempat komunikasi di mana individu dapat saling berhubungan satu sama lain dengan memberikan informasi, informasi tersebut termasuk yang berkaitan dengan dirinya sendiri (Emeraldien et al., 2019). Melalui Instagram penggunanya dapat memposting kesehariannya lewat foto maupun video. Pengguna juga dapat saling berbagi serta berinteraksi dengan pengikut Instagram mereka melalui fitur-fitur yang telah disediakan seperti fitur like, coment, share, direct message, instagram story, dll. Idealnya Instagram digunakan untuk menunjukkan diri kepada orang lain sehingga dapat menimbulkan standar ideal yang tidak realistis untuk diwujudkan seperti citra diri, tubuh ideal, citra kehidupan yang sempurna, kekayaan dan foto-foto yang diedit dengan sempurna (Moreton & Greenfield, 2022). Standar ideal yang tidak realistis tersebut menyebabkan pengguna Instagram merasa terbatas untuk mengungkapakan diri mereka di akun utama Instagram mereka, sehingga muncullah fenomena akun kedua atau second account Instagram di mana pengikut akun tersebut adalah orang-orang terdekat pengguna. Second account Instagram berfungsi sebagai ruang aman dan nyaman yang memungkinkan pengguna untuk berbagi pengalaman pribadi tanpa merasa terancam atau terbebani oleh ekspektasi sosial di akun utama (Angraeni & Budiarto, 2024).
Second Account Instagram dan Keterbukaan Diri
Munculnya second account Instagram merupakan bentuk dari self disclosure yang disebabkan oleh keterbatasan pengguna Instagram dalam mengungkapkan serta mengekspresikan perasaan serta pemikiran mereka di akun utama Instagram atau first account (McGregor & Li, 2019). Pengungkapan diri atau self disclosure sendiri merupakan komunikasi pesan apapun tentang diri sendiri kepada orang lain (Wheeless & Grotz, 1976). Akun kedua digunakan untuk mengunggah konten secara bebas dengan jumlah yang lebih banyak serta membagikan berbagai kegiatan yang hanya dapat dilihat oleh pengguna tertentu dan teman terdekatnya (Permana & Sutedja, 2021) Second account atau akun kedua bersifat lebih private dimana pengikut pada second account lebih sedikit dibandingkan dengan first account atau akun utama karena pengguna dapat memilah pengikut second account Instagramnya.
Kedekatan (intimate friendship) merupakan salah satu faktor yang menggerakkan keterbukaan diri seseorang. Intimate friendship adalah hubungan positif timbal balik antar dua individu yang memiliki kesamaan di mana hubungan tersebut dapat ditandai dengan kepercayaan dan pengungkapan diri (Kingery & Reuter, 2011). Hal ini menyebabkan individu membuat second account Instagram di mana pengikut akun tersebut adalah orang-orang terdekat pengguna, sehingga pengguna lebih leluasa untuk mengungkapakan dirinya. Pada penelitian ini platform second account Instagram digunakan sebagai media yang diteliti di mana kualitas hubungan kedekatan pertemanan (intimate friendship) dapat menggerakkan individu untuk lebih melakukan keterbukaan diri (self disclosure) di second account Instagram daripada di akun utama Instagram. Diharapkan penelitian ini dapat memberikan temuan baru sehingga dapat memperkaya hasil riset terkait intimate friendship dan self disclosure. Oleh karena itu esai ini akan membahas mengenai Hubungan Intimate Friendship dengan Self Disclosure pada Pengguna Second Account Instagram.
Second account Instagram merupakan akun kedua, di mana pengguna membuat akun di Instagram lebih dari satu akun menggunakan email yang berbeda. Pengguna second account Instagram biasanya tidak menggunakan username nama asli atau nama panggilan mereka. Pengguna second account Instagram memilih menggunakan username dengan nama yang unik dan tidak mudah dikenali (Emeraldien et al., 2019). Pengguna second account memiliki jumlah pengikut yang sedikit karena penggunanya biasanya menggunakan fitur private account, di mana pengguna fitur ini dapat membatasi orang-orang yang mengikuti akunnya. Para pengikut second account ini biasanya dipilih berdasarkan mereka yang dekat dan dipercayai oleh pemilik akun (Prihantoro et al., 2020). Penggunaan second account Instagram atau juga disebut "Finstagrams” menjadi tempat untuk mengekspresikan apa saja yang pengguna rasakan serta sebagai tempat untuk bersikap jujur dan membentuk pengungkapan diri. Sedangkan untuk first account Instagram, mereka gunakan sebagai personal branding (Emeraldien et al., 2019).
Self Disclosure dan Intimate Friendship pada Pengguna Second Account Instagram
Teori tentang self diclosure pertama kali dicetuskan oleh Wheeless dan Grotz (1976) yang menjelaskan arti self disclosure yaitu komunikasi pesan apapun mengenai diri sendiri kepada orang lain Terdapat 5 aspek yang dimiliki oleh self disclosure menurut Leung (2002), aspek-aspek tersebut yaitu: Depth or intimacy, Accuracy, Amount, Valence, serta Intention.
Individu dengan tingkat self disclosure sangat tinggi dapat dengan efektif mengungkapkan dirinya melalui second account Instagram. Hal ini sejalan dengan temuan Prihantoro et al. (2020) di mana individu dapat mengungkapkan dirinya dengan efektif melalui second account Instagram. Individu dengan tingkat self disclosure sangat rendah menujukkan individu tersebut khawatir untuk mengungkapkan dirinya di second account Instagram. Sebagian besar siswa merasa khawatir untuk memposting di Instagram karena takut akan penilaian dari orang lain (Moreton & Greenfield, 2022).
Sharabany (1994) mengungkapkan bahwa intimate friendship merupakan sebuah bentuk dari hubungan emosional di mana individu dapat berempati dan berbagi perasaan dengan orang lain, individu menjadi percaya, perhatian, serta melakukan komitmen dengan orang lain, dan keterbukaan diri. Perhatian kepada teman memiliki kaitan dengan pengembangan self esteem yang positif, identitas diri, dan penyesuaian diri yang lebih baik. Intimate friendship memiliki aspek-aspek yaitu: frankness and spontanity (kejujuran dan spontanitas), sensitivity and knowing (kepekaan dan pengertian), attachment (kelekatan), exclusiveness (eksklusifitas), giving and sharing (memberi dan berbagi), imposition, dan common activities (kegiatan yang sama), kepercayaan dan kesetiaan (trust and loyalty) (Sharabany, 1994).
Individu dengan tingkat intimate friendship sangat tinggi memiliki hubungan kedekatan pertemanan yang kuat dengan teman pengikut second account Instagramnya sehingga individu dapat melakukan keterbukaan diri. Hal ini sejalan dengan penelitian Pohan & Dalimunthe (2017) di mana intimate friendship dibutuhkan dalam melakukan self disclosure. Faktor kedekatan memengaruhi individu untuk mengungkapkan dirinya sehingga timbul rasa nyaman dan percaya (Wattimena et al., 2022).
Mayoritas pengguna second account Instagram adalah perempuan. DeVito (2018) yang menjelaskan bahwa perempuan lebih mengungkapkan diri mengenai perasaan terhadap orang lain, ketakutan mereka, serta terkait hubungan romantis yang dijalani daripada laki-laki. Jenis kelamin mempengaruhi pengungkapan diri secara online karena adanya perbedaan dalam motivasi individu (Rahardjo & Mardianti, 2022).
Penelitian peneliti tentang “Hubungan Antara Intimate Friendship dengan Self Disclosure pada Pengguna Second Account Instagram” dengan responden mahasiswa Fakultas Ushuluddin dan Dakwah UIN Raden Mas Said Surakarta menunjukkan nilai koefisien r sebesar 0,387 dan nilai signifikansi p = 0.000 (p < 0,05) yang dapat diartikan bahwa self disclosure memiliki hubungan positif yang signifikan dengan intimate friendship pada mahasiswa pengguna second account Instagram, di mana semakin tinggi intimate friendship maka semakin tinggi pula self disclosure. Sebaliknya apabila intimate friendship rendah maka semakin rendah pula self disclosure.
Penelitian ini menguatkan hasil riset yang telah dilakukan oleh Sherly et al. (2019) yaitu semakin tinggi self-disclosure, maka semakin tinggi intimate friendship dan sebaliknya semakin rendah self-disclosure, maka semakin rendah intimate friendship, serta menguatkan hasil riset Febriani et al. (2021) di mana semakin dekat atau semakin tinggi intimate friendship maka akan semakin tinggi pula pengungkapan diri (self disclosure).
Mahasiswa yang menggunakan second account Instagram memiliki intimate friendship dengan pengikutnya sehingga mereka dapat melakukan keterbukaan diri (self disclosure) di second account Instagram dengan lebih leluasa karena yang dapat melihat postingan tersebut hanyalah pengikut yang dekat dengan mereka. Second account Instagram berfungsi sebagai ruang aman dan nyaman yang memungkinkan pengguna untuk berbagi pengalaman pribadi tanpa merasa terancam atau terbebani oleh ekspektasi sosial di akun utama (Angraeni & Budiarto, 2024). Hal ini sejalan dengan penelitian Prihantoro et al. (2020) dimana pengguna second account Instagram lebih terbuka karena akun tersebut di private sehingga yang dapat melihat apa yang mereka bagikan hanya orang yang sangat dekat dan mereka percayai. Pengungkapan diri dengan membagikan informasi yang terkait dengan identitas diri, perasaan serta keadaan yang mereka alami.
Individu yang mempunyai intimate friendship akan dapat mengungkapkan dirinya secara efektif. Prihantoro et al. (2020) menyatakan bahwa individu dapat mengungkapkan dirinya dengan efektif melalui second account Instagram. Melalui intimate friendship pada pengguna second account Instagram, pengguna dapat dengan lebih leluasa untuk mengungkapkan dirinya tanpa perlu khawatir akan standar sosial media yang tidak realistis serta tidak perlu khawatir atas ekspektasi sosial dari khalayak umum, sehingga kesehatan mental pengguna dapat terjaga dengan baik. Media sosial dapat meningkatkan hubungan di antara individu yang jaraknya jauh dan memainkan peran penting dalam pengembangan komunitas, memfasilitasi hubungan yang dapat meningkatkan kesehatan mental dan menumbuhkan lingkungan yang mendukung (Ajewumi et al., 2024).
Individu yang memiliki intimate friendship atau kedekatan hubungan yang baik dengan temannya, maka induvidu tersebut akan lebih leluasa mengungkapakan dirinya. Temuan ini dapat memberikan kontribusi terkait variabel self disclosure, serta memberikan petunjuk bagi peneliti selanjutnya untuk mengembangkan penelitian terkait dengan variabel bebas yang lain seperti kepribadian dan kepercayaan. Pengguna second account Instagram dapat lebih bijak dalam mengungkapkan diri di media sosial agar terhindar dari tindak kejahatan serta menjaga kondisi kesehatan mental pengguna second account Instagram.
*Mahasiswa Prodi Psikologi Islam Angkatan 2019