Sukoharjo, 17 Juni 2026. Program Studi Psikologi Islam Fakultas Ushuluddin dan Dakwah UIN Raden Mas Said Surakarta menyelenggarakan Seminar Internasional bertajuk “Student Agency in Addressing Academic Stress and Mental Health Through Psychological Services in the Digital Era” pada Rabu, 17 Juni 2026. Kegiatan ini diselenggarakan secara hybrid, yakni luring di Auditorium Fakultas Ushuluddin dan Dakwah lantai 2 UIN Raden Mas Said Surakarta serta daring melalui Zoom Meeting, sebagai wadah diskusi ilmiah mengenai peran mahasiswa dalam menghadapi stres akademik dan menjaga kesehatan mental di era digital.
Seminar ini menghadirkan narasumber dari berbagai negara dan institusi ternama di bidang psikologi, pendidikan, dan kesehatan mental. Para pembicara berasal dari Malaysia, Tiongkok, Thailand, Belanda, dan Indonesia, dengan harapan mampu memberikan perspektif global terkait tantangan dan strategi pengembangan layanan psikologis bagi mahasiswa.

Para pembicara yang hadir antara lain Assoc. Prof. Dr. Melissa Ng Lee Yen Abdullah, pakar Psikologi Pendidikan dari Universiti Sains Malaysia; See Yoke Wee, mahasiswa Master Konseling Universiti Sains Malaysia sekaligus Guru Konseling di Phor Tay High School; serta Assoc. Prof. Yu Xiaoyu dari School of Psychology and Mental Health, North China University of Science and Technology. Hadir pula Asst. Prof. Tanapat Janpipatpong dari Social Psychology Program, Faculty of Social Sciences, Chiang Rai Rajabhat University, Thailand; Estrelita Gracia, M.Sc., M.Psi., Psikolog, Clinical Psychologist & Intercultural Counselor Rumah Sakit Dr. Oen Solobaru, Sukoharjo; serta Zahra Frida Intani, S.Psi., M.Psi., Psikolog, dosen Universitas Gadjah Mada yang saat ini tengah menempuh program doktoral di University of Groningen, Belanda.
Kegiatan ini diawali dengan sambutan dari Ketua Program Studi Psikologi Islam, Dr. Retno Pangestuti, M.Psi., Psikolog, dilanjutkan sambutan sekaligus pembukaan resmi oleh Wakil Dekan II Fakultas Ushuluddin dan Dakwah UIN Raden Mas Said Surakarta, Zaenal Muttaqin, M.A., Ph.D., yang mewakili Dekan. Melalui seminar ini, pihak fakultas menegaskan komitmen institusi dalam mendukung pengembangan kesehatan mental mahasiswa melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat, sekaligus menjadikan kegiatan ini sebagai bentuk kontribusi akademik dalam merespons meningkatnya perhatian terhadap isu kesehatan mental di lingkungan pendidikan tinggi.
Materi seminar disampaikan dalam tiga sesi dengan moderator dari kalangan dosen Prodi Psikologi Islam. Sesi pertama dimoderatori oleh Mufarridah Layalia, S.Psi., M.A., sementara sesi kedua dan ketiga dimoderatori oleh Maharani Tyas Budi Hapsari, M.Psi., Psikolog.

Pada sesi pertama, Estrelita Gracia, M.Sc., M.Psi., Psikolog, Clinical Psychologist & Intercultural Counselor, dari Rumah Sakit Dr. Oen Solobaru, Sukoharjo membuka diskusi dengan memetakan siklus academic distress yang bergerak dari stres, kecemasan kronis, hingga burnout, yang dipicu oleh tenggat waktu, beban tugas, dan minimnya dukungan. Pemaparan ini didukung data prevalensi global seperti 86,6 persen mahasiswa Tiongkok mengalami stres akademik berat berujung burnout, 76,8 persen mahasiswa kedokteran Iran mengalami burnout, 87 persen mahasiswa Amerika Serikat menyebut pendidikan sebagai sumber stres utama, serta temuan UGM tahun 2021 yang mencatat 59,36 persen mahasiswa mengalami academic burnout. Ia menekankan bahwa akar masalahnya adalah rasa tidak berdaya akibat beban berlebihan, ekspektasi tidak jelas, dan minimnya kendali atas hasil, sehingga penguatan student agency menjadi kunci manajemen stres. Estrelita juga memaparkan peluang era digital seperti teleterapi, aplikasi self-help, dan pesan asinkron dengan konselor yang menurunkan hambatan geografis dan stigma, sekaligus mengingatkan risikonya berupa perbandingan sosial di media sosial, algoritma yang mendorong penggunaan kompulsif, dan program digital detox yang berisiko tanpa keahlian kesehatan mental memadai. Materinya ditutup dengan model praktis GROW (Goal, Realistic, Options, Will) sebagai panduan melepaskan perfeksionisme melalui self-compassion.

Memasuki sesi kedua, Assoc. Prof. Dr. Melissa Ng Lee Yen Abdullah, pakar Psikologi Pendidikan dari Universiti Sains Malaysia, memaparkan pergeseran dari pola passive coping menuju student agency, dengan menyoroti bahwa 75 persen mahasiswa lebih memilih bercerita kepada teman dibanding konselor profesional, sementara hanya 9 persen remaja yang mencari bantuan profesional. Ia menjelaskan bahwa student agency bukan sekadar memberi suara kepada mahasiswa, melainkan memberdayakan mereka untuk mengenali kebutuhan sendiri, membuat keputusan, mencari dukungan, mengambil tindakan positif, dan mendukung sesama secara bertanggung jawab. Dalam konteks ini, ia memperkenalkan model Pembimbing Rakan Sebaya (PRS) yang telah berjalan di Malaysia sejak 1984 sebagai jembatan dukungan awal sebelum rujukan ke layanan konseling formal, bukan sebagai pengganti konselor, melainkan sebagai pendengar, pendorong semangat, dan penghubung.

Pemaparan dilanjutkan oleh See Yoke Wee, mahasiswa Master Konseling Universiti Sains Malaysia sekaligus Guru Konseling di Phor Tay High School, yang berbagi perjalanan pribadinya sebagai PRS sejak masa diploma (2017–2020), berlanjut secara sukarela saat menempuh sarjana (2021–2023), hingga kini menjadi guru pembina kelompok PRS di sekolah. Ia menegaskan bahwa pengalaman tersebut tidak hanya membantunya memahami tantangan nyata mahasiswa, tetapi juga membangun kepercayaan diri, keterampilan konseling praktis, dan semangat untuk berkontribusi di bidang layanan bantuan.

Assoc. Prof. Yu Xiaoyu dari School of Psychology and Mental Health, North China University of Science and Technology, menyampaikan perspektif Tiongkok, di mana dukungan sebaya telah diformalkan melalui kebijakan nasional yang diterbitkan bersama oleh Kementerian Pendidikan dan enam belas kementerian serta lembaga lainnya pada 2023 dalam bentuk Special Action Plan for Comprehensively Strengthening and Improving Student Mental Health Work in the New Era (2023–2025). Kebijakan ini mengintegrasikan dukungan sebaya ke dalam jejaring deteksi dini empat level, yaitu universitas, fakultas, kelas, dan asrama, diperkuat berbagai aktivitas seperti mandala painting, sandplay therapy, peringatan World Sleep Day dan World Mental Health Day, hingga inovasi robot AI berbasis empati untuk konseling sebaya yang turut diperluas ke sekolah menengah di wilayah pedesaan. Asst. Prof. Tanapat Janpipatpong dari Social Psychology Program, Faculty of Social Sciences, Chiang Rai Rajabhat University, Thailand, memaparkan kerangka well-being ecosystem yang memadukan Mental Health First Aid dan literasi kesehatan mental, dengan contoh praktik baik dari sejumlah universitas Thailand.

Pada sesi ketiga, Zahra Frida Intani, S.Psi., M.Psi., Psikolog, dosen Universitas Gadjah Mada yang saat ini menempuh program doktoral di University of Groningen, Belanda, menutup rangkaian materi dengan membahas academic stress sebagai jenis stres situasional yang muncul dari tuntutan lingkungan pendidikan dan berdampak jangka panjang bila berlebihan. Ia membedakan sumber stres intrapsikis yang berakar dari ekspektasi pribadi, tujuan yang ditetapkan sendiri, dan motivasi intrinsik, dari sumber eksternal seperti ekspektasi orang tua, tuntutan dosen, dan persaingan antarteman. Ia juga memaparkan delapan sumber stres akademik spesifik, yaitu ekspektasi akademik, perubahan lingkaran sosial, manajemen waktu, masalah finansial, hubungan tidak seimbang, kerinduan kampung halaman, beban kerja berlebihan, dan ketakutan akan kegagalan. Faktor protektif seperti self-efficacy akademik, resiliensi, adaptabilitas, optimisme, dukungan sosial, kecerdasan emosional, spiritualitas, dan manajemen waktu turut dipaparkan sebagai penyeimbang. Sesi ditutup dengan kerangka transformasi stres menjadi motivasi melalui “5R”, yaitu Reset (reframing mindset), Reorganize (menyelaraskan aktivitas dengan peran dan tanggung jawab), Reconnect (memperkuat jaringan dukungan sosial dan emosional), Recharge (memulihkan energi melalui hobi sehat), dan Remember (menyadari batas kendali diri dan meyakini bahwa rencana Sang Pencipta selalu yang terbaik).

Melalui seminar ini, peserta memperoleh wawasan komprehensif mengenai konsep student agency, ragam strategi penanganan stres akademik lintas negara, serta pemanfaatan layanan psikologis berbasis teknologi. Kegiatan ini sekaligus memperluas jejaring akademik antara UIN Raden Mas Said Surakarta dengan Universiti Sains Malaysia, North China University of Science and Technology, dan Chiang Rai Rajabhat University, serta menjadi bentuk kontribusi nyata Program Studi Psikologi Islam dalam merespons meningkatnya perhatian terhadap isu kesehatan mental di lingkungan pendidikan tinggi. Informasi lebih lanjut mengenai Program Studi Psikologi Islam UIN Raden Mas Said Surakarta dapat diakses melalui akun resmi Instagram di pi.uinsurakarta. (Nur Aini, dkk*)