Surakarta, Selasa, 24 Februari 2026, bertempat di Aula Fakultas Ushuluddin dan Dakwah, Himpunan Mahasiswa Program Studi Psikologi Islam (HMPS PI) Fakultas Ushuluddin dan Dakwah Universitas Islam Negeri Raden Mas Said Surakarta menggelar kegiatan diskusi rutin NGOPSI yang bertema “Antara Sabar dan Burnout: Kapan Bertahan, Kapan Berubah”. Acara dihadiri oleh mahasiswa Psikologi Islam lintas angkatan, pengurus HMPS, Ketua Program Studi (Kaprodi), serta tamu undangan.
Acara dimulai dengan laporan dari Ketua Panitia, Ainan Salsabila, yang disusul oleh sambutan Ketua Umum HMPS PI, Lubna Ma’sumah. Dalam orasinya, Lubna menekankan pentingnya dukungan dan antusiasme mahasiswa agar program kerja HMPS dapat terus menjadi wadah pengembangan diri yang relevan.

Apresiasi tinggi datang dari Ketua Program Studi Psikologi Islam, Dr. Retno Pangestusti, M.Psi., Psikolog. Dalam sambutannya, ia menyebut bahwa NGOPSI edisi kali ini terasa spesial karena dilaksanakan di tengah suasana bulan suci Ramadhan. "Mahasiswa harus aktif berdiskusi, berbagi, dan berkolaborasi. Manfaatkan momentum ini untuk mengeksplorasi Psikologi Islam dengan sikap yang positif," ujar Dr. Retno sebelum secara resmi membuka acara dengan bacaan basmalah.

Menghadirkan Ahmad Saifudin, M.Psi., Psikolog sebagai narasumber utama, diskusi yang di dimoderatori Nur Faqih Wirawan (pengurus HMPS Psikologi Islam) membedah konsep sabar yang sering kali disalahpahami sebagai sikap pasif. Ahmad menjelaskan bahwa dalam perspektif psikologi dan Islam, sabar sejatinya memiliki lima dimensi strategis: pengendalian diri, ketabahan tanpa keluh kesah, kegigihan dalam bekerja keras, penerimaan realitas dengan syukur, serta ketenangan dalam bertindak.
Terkait fenomena burnout atau kelelahan mental yang sering melanda mahasiswa akibat beban akademik, Ahmad memberikan saran praktis. Ia menekankan pentingnya mengambil jeda sejenak untuk menstabilkan emosi dan menata ulang pola pikir (mindset) dengan berprasangka baik. “Jangan terburu-buru mengambil keputusan saat sedang burnout, karena setiap keputusan memiliki risiko. Ambillah langkah strategis setelah emosi lebih stabil,” Ujar Pak Saif, panggilan akrab beliau.
Diskusi ditutup dengan kesimpulan reflektif bahwa mengeluh sebenarnya adalah hal yang manusiawi, selama tidak dilakukan secara terus-menerus hingga melumpuhkan produktivitas. Peserta diajak untuk memahami bahwa sabar adalah sebuah proses belajar yang tidak selalu terlihat buktinya secara instan, namun menjadi kunci dalam menghadapi cobaan dan menjalankan ketaatan.

Sabar ditegaskan memiliki cakupan yang luas; ia adalah perisai dalam menghadapi kesulitan, kendali diri dalam menjauhi hal negatif, serta kekuatan utama dalam menjalankan prinsip hidup. Melalui NGOPSI kali ini, mahasiswa diharapkan tidak hanya mampu bertahan di tengah tekanan (burnout), tetapi juga bijak dalam menentukan kapan harus melakukan perubahan demi kesehatan mental yang lebih baik. (Merizka Muna Fitriani*)