Oleh : M. Sholahudin*
Perkembangan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) dalam dunia pendidikan memberikan dampak besar terhadap berbagai aspek pengajaran. Teknologi, yang dulunya hanya digunakan sebatas alat bantu, kini menjadi bagian integral dari proses belajar mengajar yang tidak dapat terpisahkan. Penggunaan perangkat digital seperti laptop, proyektor, aplikasi atau platform digital pembelajaran, telah mengubah pola pikir, cara belajar dan mengajar, dan interaksi antara guru dan siswa. Kondisi memaksa guru, termasuk guru dengan usia lanjut (lansia) untuk beradaptasi dengan perkembangan teknologi tersebut. Para guru lansia ini harus berhadapan dengan perubahan besar dalam dunia pendidikan yang sangat bergantung pada teknologi, dan mereka harus mengubah cara mengajar yang telah mereka lakukan selama bertahun-tahun.
Usia lanjut menurut Hurlock (2004) adalah periode kehidupan di mana seseorang mengalami penurunan fisik dan kognitif yang signifikan. Kondisi tersebut bisa mempengaruhi kemampuan guru lansia untuk cepat beradaptasi dengan teknologi yang terus berkembang. Ditambah lagi, sebagian besar guru lansia dianggap belum memiliki pengalaman yang cukup dalam menggunakan teknologi, yang membuat mereka merasa terasing dan terpinggirkan dalam dunia pendidikan yang semakin mengandalkan perangkat digital.
Pada kenyataannya, guru lansia dihadapkan pada tantangan ganda: pertama, mereka harus menghadapi penurunan kemampuan fisik dan kognitif yang merupakan bagian alami kehidupan, dan kedua, mereka harus beradaptasi dengan tuntutan dunia pendidikan yang semakin digital. Dinamika pendidikan yang terus berkembang guru lansia harus menghadapi perubahan besar dalam cara mereka mengajar. Misalnya, alat bantu mengajar seperti proyektor LCD, penggunaan aplikasi pembelajaran berbasis internet, serta metode pembelajaran daring menjadi hal yang asing bagi sebagian besar guru lansia. Hal ini tentu menjadi tantangan tersendiri bagi mereka, terlebih lagi jika mereka tidak terbiasa dengan teknologi. Namun, tantangan tersebut bukanlah hal yang tidak bisa diatasi. Guru lansia, meskipun mengalami kesulitan dalam menghadapi perkembangan teknologi, sebenarnya memiliki potensi untuk beradaptasi dengan perubahan tersebut jika diberikan dukungan yang memadai. Salah satu cara yang bisa membantu mereka beradaptasi adalah dengan melakukan job crafting.
Job Crafting Sebagai Solusi untuk Adaptasi Teknologi
Job crafting adalah konsep yang menggambarkan upaya individu untuk mengubah atau menyesuaikan pekerjaan mereka agar lebih relevan, bermakna, dan sesuai dengan kebutuhan pribadi mereka. Dalam konteks guru lansia, job crafting dapat diartikan sebagai usaha untuk mengubah cara mengajar mereka agar lebih sesuai dengan perkembangan teknologi yang ada, sekaligus tetap mempertahankan esensi dari profesi mereka sebagai pengajar.
Menurut Wrzesniewski & Dutton (2001) dalam (Rahmah Cesar Damayanti, 2018), job crafting melibatkan tiga aspek utama: perubahan dalam tugas pekerjaan, perubahan dalam hubungan sosial di tempat kerja, dan perubahan dalam cara pandang terhadap pekerjaan itu sendiri. Dalam dunia pendidikan, job crafting ini dapat diterjemahkan sebagai upaya guru untuk mengubah metode atau pendekatan pengajaran mereka, memperluas wawasan mengenai teknologi, dan membangun hubungan yang lebih erat dengan rekan kerja serta siswa untuk menciptakan pengalaman belajar yang lebih baik.
Hasil penelitian peneliti tentang "Job crafting Guru Lansia di Era Teknologi Pada MTS Ma’arif NU Tempursari, Mantingan, Ngawi, Jawa Timur Tahun 2024" menunjukkan dinamika job crafting guru lansia sebagai upaya dalam memodifikasi cara kerjanya. Di MTs Maarif NU Tempursari, beberapa guru lansia, seperti AL (57 tahun), NR (59 tahun), dan MH (60 tahun) mampu menerapkan konsep job crafting ini dalam kegiatan profesional pengajaran. AL, yang sebelumnya hanya mengandalkan buku teks dan papan tulis dalam mengajar, kini mulai memanfaatkan teknologi seperti proyektor LCD untuk menampilkan video pembelajaran yang lebih interaktif. Ia juga mulai menggunakan aplikasi-aplikasi digital untuk mendukung pembelajaran, seperti menggunakan video YouTube untuk menjelaskan materi pelajaran dengan cara yang lebih menarik dan mudah dipahami oleh siswa.
Sementara itu, NR dan MH juga tidak ketinggalan dalam beradaptasi dengan teknologi. Mereka mulai menggunakan aplikasi pembelajaran seperti Kahoot, yang memungkinkan siswa untuk berinteraksi secara langsung melalui kuis-kuis yang berbasis digital. Aplikasi ini tidak hanya membuat proses belajar lebih menyenangkan bagi siswa, tetapi juga meningkatkan keterlibatan mereka dalam kelas. Hal ini menunjukkan bahwa para guru lansia di MTs Maarif NU Tempursari tidak hanya berusaha untuk mengimbangi perkembangan teknologi, tetapi juga berusaha menjadikan teknologi sebagai alat untuk meningkatkan kualitas pengajaran mereka.
Proses adaptasi teknologi yang dilakukan oleh guru lansia ini tentu tidak terjadi dalam semalam. Dibutuhkan usaha yang berkelanjutan dan keinginan yang kuat untuk belajar dan berkembang. Seperti yang dialami oleh AL, yang mulai memanfaatkan tutorial YouTube untuk belajar menggunakan perangkat teknologi baru. Ia juga aktif meminta bantuan dari guru muda yang lebih mahir dalam teknologi untuk memahami cara menggunakan aplikasi pembelajaran digital. Melalui usaha ini, AL berhasil mengubah cara mengajarnya yang dulu hanya mengandalkan metode tradisional menjadi metode yang lebih inovatif dan relevan dengan kebutuhan zaman.
Job Crafting dan Pandangan Positif terhadap Pekerjaan
Salah satu hal yang sangat berperan dalam proses adaptasi teknologi oleh guru lansia adalah pandangan mereka terhadap pekerjaan mereka sebagai guru. Sebagai guru yang sudah berpengalaman, mereka sering kali memiliki pandangan yang sangat mendalam mengenai apa artinya menjadi seorang pendidik. Oleh karena itu, penting bagi mereka untuk memiliki pandangan positif terhadap pekerjaan mereka agar dapat menghadapi tantangan dengan optimisme.
Pada awalnya, banyak guru lansia merasa cemas dan khawatir menghadapi tuntutan teknologi dalam pengajaran. Namun, seiring waktu, mereka mulai mengubah pandangan mereka terhadap teknologi. Mereka tidak lagi melihat teknologi sebagai ancaman atau hambatan, tetapi sebagai kesempatan untuk meningkatkan kualitas pengajaran dan memperkaya pengalaman belajar siswa. Mereka merasa bersyukur karena masih diberikan kesempatan untuk mengajar, dan teknologi menjadi alat yang memungkinkan mereka untuk memperbaharui keterampilan mengajar mereka.
Sebagaimana dijelaskan oleh Kong et al. (2020), rasa syukur dan pandangan positif terhadap pekerjaan berperan besar dalam meningkatkan kesejahteraan mental dan keterlibatan dalam pekerjaan. Rasa syukur membuat mereka merasa lebih termotivasi untuk terus belajar dan beradaptasi dengan teknologi, dan ini berkontribusi pada peningkatan kesejahteraan psikologis mereka. Mereka melihat tantangan teknologi bukan sebagai beban, tetapi sebagai peluang untuk berkembang. Dalam hal ini, job crafting juga berperan dalam mengubah cara pandang mereka terhadap pekerjaan. Dengan melakukan job crafting, guru lansia tidak hanya menyesuaikan cara mereka mengajar, tetapi juga menyesuaikan cara mereka memandang pekerjaan mereka sebagai guru. Mereka merasa lebih puas dan termotivasi karena dapat memberikan yang terbaik bagi siswa, meskipun usia mereka sudah tidak muda lagi.
Peran Hubungan Sosial dalam Job Crafting Guru Lansia
Selain perubahan dalam tugas pekerjaan dan pandangan terhadap pekerjaan, aspek hubungan sosial juga sangat penting dalam proses job crafting. Guru lansia tidak hanya berinteraksi dengan siswa, tetapi juga dengan rekan-rekan guru lainnya. Di MTs Maarif NU Tempursari, para guru lansia seperti AL, NR, dan MH menunjukkan bahwa hubungan sosial yang baik dengan rekan kerja, terutama dengan guru muda, sangat membantu mereka dalam beradaptasi dengan teknologi. Mereka tidak hanya belajar bersama dengan guru muda, tetapi juga saling berbagi pengetahuan dan pengalaman untuk meningkatkan kualitas pembelajaran.
Interaksi sosial yang positif ini menciptakan suasana kerja yang lebih kolaboratif dan mendukung. Para guru lansia merasa lebih percaya diri untuk bertanya dan meminta bantuan ketika mereka menghadapi kesulitan dalam menggunakan teknologi. Mereka juga merasa didukung oleh rekan-rekan mereka yang lebih muda, yang dengan sabar membantu mereka memahami teknologi yang baru. Hal ini menunjukkan bahwa hubungan sosial yang baik dapat mempercepat proses adaptasi terhadap teknologi.
Secara keseluruhan, guru lansia di MTs Maarif NU Tempursari mampu melakukan job crafting untuk beradaptasi dengan perkembangan teknologi dalam dunia pendidikan. Meskipun menghadapi berbagai tantangan, mereka mampu mengubah cara mengajar mereka untuk lebih relevan dengan kebutuhan zaman. Dengan rasa syukur, pandangan positif terhadap pekerjaan, dan hubungan sosial yang mendukung, mereka berhasil mengatasi hambatan yang ada dan meningkatkan kualitas pengajaran mereka.
Job crafting bukan hanya memberikan kesempatan bagi guru lansia untuk menyesuaikan pekerjaan mereka dengan kebutuhan pribadi, tetapi juga memungkinkan mereka untuk tetap relevan dan berkontribusi dalam dunia pendidikan. Dalam menghadapi perkembangan teknologi yang terus berubah, guru lansia dapat menjadi contoh bagi kita semua tentang bagaimana menghadapi tantangan dengan semangat belajar dan adaptasi yang tinggi. Melalui job crafting, mereka berhasil mengubah pekerjaan mereka menjadi lebih bermakna dan sesuai dengan kebutuhan zaman, sekaligus memberikan pengalaman belajar yang lebih baik bagi siswa.
*Mahasiswa Psikologi Islam Angkatan 2020 dan Ketua HMPS Psikologi Islam Tahun 2023.