Oleh Aulia Mutiara Adi*
Keluarga penyandang disabilitas mengacu pada keluarga yang memiliki anggota yang membutuhkan perhatian atau dukungan tambahan akibat kondisi tertentu. Ini bisa melibatkan anggota keluarga dengan disabilitas fisik atau intelektual, gangguan kesehatan mental (seperti skizofrenia dan bipolar), penyakit kronis (diabetes atau kanker) atau lansia yang memerlukan perawatan khusus. Kombinasi antara tanggung jawab pekerjaan, tugas rumah tangga, merawat anggota keluarga yang sakit, dan pengasuhan anak berkebutuhan khusus menciptakan beban yang signifikan bagi istri yang menjalankan peran ganda, yaitu bekerja, mengasuh anak berkebutuhan khusus dan merawat suami yang mengalami gangguan mental.
Cabral et al., (2014) berpendapat perempuan cenderung lebih sering menggunakan strategi penghindaran dalam menghadapi masalah, yang mengakibatkan mereka mengalami lebih banyak stres, depresi, dan konflik dalam hubungan pribadi. Prevalensi gangguan depresi dan kecemasan pada wanita tercatat 1,5 hingga 2 kali lebih tinggi dibandingkan dengan pria. Keluarga juga mengalami berbagai stressor yang mengakibatkan akumulasi peristiwa yang menekan. Akumulasi interaksi dari peristiwa hidup ini dapat mendorong keluarga ke dalam situasi krisis, sementara dari sisi fisik, keluarga menjadi lebih rentan terhadap penyakit karena kelelahan (Amelasasih, 2016). Menurut Wanti et al., (2016) Kehadiran anggota keluarga dengan gangguan jiwa berat menjadi beban bagi keluarga. Penelitian Pinquart & Sörensen, 2003 menunjukkan bahwa pengasuh pasien dengan demensia (sebagai perwakilan gangguan mental kronis) mengungkapkan tingkat stres yang lebih tinggi dibandingkan dengan pengasuh pasien yang memiliki penyakit fisik.
Kelelahan yang terjadi pada istri karena pekerjaan dan pengasuhan yang terus berulang mengakibatkan timbulnya stres ganda yaitu stres karena pekerjaan dan juga stres pengasuhan. Hal ini menimbulkan terjadinya kelelahan yang berlebihan, kelelahan yang terjadi pada orang tua akibat dari pekerjaan dan pengasuhan yang terus berulang mengakibatkan timbulnya kelelahan emosional seperti lelah mental (stres) karena pekerjaan dan juga pengasuhan, selain itu mereka juga mengalami kelelahan fisik seperti terjadinya penurunan kemampuan dalam hal menggunakan kekuatan fisik sendiri, adanya perasaan ketidaknyamanan pada tubuh, dan terjadinya perubahan fungsi vegetatif seperti detak jantung. Keadaan ini menjadikan istri berada dalam kondisi lelah dan emosional, dalam pandangan psikologi kondisi ini disebut dengan parental burnout. (Mikolajczak et al., 2021).
Mikolajczak & Roskam, (2018) menjelaskan bahwa parental burnout mencakup kelelahan luar biasa terkait peran sebagai orang tua, jarak emosional dengan anak, rendahnya pencapaian personal, hingga munculnya ide melarikan diri atau pikiran untuk bunuh diri. Menurut Pines & Aronson, (1988) burnout terdiri dari tiga dimensi utama: 1) Kelelahan fisik: kehilangan energi dan rasa lelah secara fisik, seperti nyeri otot, tubuh terasa lemas, gangguan tidur; 2) Kelelahan emosional: perasaan pribadi seperti ketidakberdayaan, kecemasan, dan depresi, dan 3) Kelelahan mental: penurunan harga diri dan depersonalisasi seperti kesulitan mengendalikan emosi, merasa rendah diri dengan peran sebagai orang tua. Apabila tidak ditangani, burnout dapat memperburuk dinamika keluarga. Perilaku seperti kelalaian, konflik rumah tangga, dan kesulitan menjaga relasi emosional dengan anak atau pasangan sering kali muncul.
Strategi Coping dalam Menghadapi Parental Burnout
Salah satu langkah penting bagi istri adalah menerapkan strategi coping yang tepat. Coping didefinisikan sebagai upaya individu untuk menghadapi masalah, menyesuaikan diri dengan perubahan, serta merespons situasi yang dianggap mengancam (Kelliat, 1999 sebagaimana dikutip dalam Virgonita et al., 2015). Strategi coping merupakan upaya yang dilakukan individu untuk menghadapi masalah, menyesuaikan diri dengan perubahan, serta merespons situasi yang dianggap mengancam (Kelliat, 1999). Beberapa studi dari Ghaisani & Hendriani, (2022) dan Putri et al., (2022) mengungkapkan bahwa dengan penerapan strategi coping yang efektif, anak penyandang disabilitas dapat berperan dalam memperkuat keluarga dan memberikan dampak positif pada kualitas hidup anggota keluarga. Perilaku coping dapat dipahami sebagai suatu proses yang dilakukan oleh individu untuk menghadapi berbagai tekanan (baik dari dalam maupun luar diri) yang membebani dan mengganggu keberlangsungan hidupnya (Maryam, 2017).
Dengan strategi coping yang efektif, dampak parental burnout dapat diminimalkan, sehingga kualitas hidup keluarga meningkat (Ghaisani & Hendriani, 2022; Putri et al., 2022). Strategi coping dapat dibagi menjadi:1) Problem-focused coping: berfokus pada penyelesaian masalah dengan mengatur waktu, membagi tugas, atau mencari bantuan eksternal; 2) Emotion-focused coping: mengelola emosi melalui relaksasi, meditasi, atau curhat kepada orang terdekat; dan 3) Religious coping: menggunakan keyakinan agama sebagai sumber dukungan, seperti doa atau mendekatkan diri kepada Tuhan. Selain itu, faktor pendukung coping meliputi self-compassion, dukungan eksternal, tingkat kecerdasan emosional yang baik, dan waktu santai untuk diri sendiri. Penerapan coping yang efektif dapat mengatasi parental burnout sehingga meningkatkan resiliensi diri dan keluarga serta mengembangkan altruisme pada istri.
Peran Masyarakat dalam Mendukung Keluarga Disabilitas
Tidak hanya keluarga inti, masyarakat juga memiliki peran dalam membantu mengatasi burnout pada keluarga penyandang disabilitas. (Mikolajczak et al., 2021) menggarisbawahi pentingnya dukungan sosial, seperti: Penerimaan tanpa stigma terhadap keluarga dengan anggota penyandang disabilitas, menyediakan lebih banyak sumber daya eksternal, seperti bantuan keuangan atau akses ke terapi, dan memberikan bantuan konkret, seperti bantuan pengasuhan atau dukungan emosional kepada para ibu.
Dukungan dari masyarakat , keluarga dan kemauan diri sendiri untuk mengatasi burnout membantu menciptakan lingkungan yang lebih inklusif, mengurangi stresor, dan meningkatkan ketahanan mental keluarga. Perubahan persepsi masyarakat terhadap disabilitas juga berpengaruh signifikan, karena persepsi positif cenderung mengurangi tingkat stres yang dirasakan oleh keluarga.
Mengatasi parental burnout membutuhkan pendekatan komprehensif yang mencakup strategi coping yang efektif dan dukungan sosial dari keluarga serta masyarakat. Dengan penerapan coping yang baik, sikap optimisme dan resiliensi diri pada istri dapat tumbuh, yang pada akhirnya memperkuat resiliensi keluarga secara keseluruhan. Langkah-langkah ini, meskipun tampak sederhana, memiliki dampak besar dalam menjaga kesehatan mental istri dan ibu dalam keluarga dengan penyandang disabilitas. Karena itu, penting untuk memberi perhatian khusus pada masalah ini, baik di tingkat individu, keluarga, maupun masyarakat.
*Mahasiswa Prodi Psikologi Islam angkatan Tahun 2019